SULITNYAmendapatkan informasi yang akurat dan masih kuatnya mitos yang beredar, membuat remaja perempuan memiliki pemahaman yang kurang tepat mengenai tubuhnya.
Remaja merupakan individu yang sedang berada dalam masa persiapan menuju kedewasaan.Pada masa ini terjadi berbagai perkembangan secara pesat, baik fisik maupun psikologis, serta intelektual. Tidak heran, pada masa ini para remaja cenderung memiliki rasa keingintahuan yang besar dan mulai menyukai petualangan dengan mencoba hal-hal yang baru. ”Pada masa inilah mereka memerlukan bimbingan agar dapat membuat pilihan yang benar.
Sehingga, penting sekali setiap remaja, terutama perempuan,memiliki pengetahuan memadai mengenai kewajiban mereka melindungi hak-hak atas tubuhnya,” kata psikolog Ratih Ibrahim saat berbicara di kampanye I Know yang digagas Kotex,beberapa hari lalu. Faktor lingkungan adalah salah satu yang dapat menjerumuskan para remaja kepada pilihan hidup yang keliru. Misalnya saja masih berkembangnya informasi yang simpang siur,yang diturunkan dari generasi sebelumnya dan dipercaya hingga kini.
Pemicu lain yakni berdasarkan masih banyaknya remaja perempuan di Indonesia yang setuju bahwa orangtua mereka menganggap membicarakan masalah seks dan juga masalah keperempuanan adalah tabu.Ada pula remaja yang menganggap diri masih terlalu kecil untuk mengetahui soal seksualitas. ”Kita kemudian tidak dapat menyalahkan remaja yang berani bereksplorasi dengan seksualitas. Padahal pengetahuan mereka amat minim,” kata psikolog yang menaruh perhatian terhadap pengembangan pribadi remaja ini. Ratih merujuk pada data yang didapat dari NRC report tahun 2002.
Laporan ini memaparkan tentang pernyataan industri pornografi bahwa 20%-30% remaja usia 8-17 tahun mengakses situs porno.Artinya, banyak dari remaja yang lebih mudah mengakses internet untuk mencari informasi tentang seksualitas daripada bertanya langsung dengan orangtua. Bahkan,menurut ginekolog dr Boy Abidin, remaja di Indonesia sudah berani bereksplorasi dengan seksualitas. Penelitian Annisa Foundation pada 2006 yang dilakukan di SMP dan SMA di Jawa Barat mengungkapkan, sebesar 42,3% siswa tersebut melakukan hubungan seks pertama kali saat masih di bangku sekolah.
”Mereka melakukannya atas dasar rasa saling suka dan tanpa paksaan,”imbuh Boy. Survei lain menunjukkan,63% remaja di beberapa kota besar di Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah.Namun sebagian besar meyakini berhubungan seks satu kali tidak menyebabkan kehamilan. Hal ini berdasarkan data dari BKKBN periode akhir Desember 2008. Keyakinan yang tidak berlandaskan ini yang akhirnya membuat remaja dengan nekatnya berani melakukan hubungan seks. Padahal, Boy mengatakan, tidak ada jaminan melakukan hubungan seks satu kali saja tidak akan berisiko hamil.
”Bahkan,walaupun ketika berhubungan baik,wanita maupun prianya masih mengenakan celana sekalipun,tidak menjamin si wanita tidak akan hamil,” tutur dokter yang aktif memberikan penyuluhan dan pembekalan kepada remaja seputar kesehatan reproduksi ini. Sebab,sperma yang telah dikeluarkan pria bersifat sangat aktif dan mampu menembus celana ketika pasangan tengah bermesraan. Jika bagian tengah sperma ini sudah bertemu dengan sebuah sel telur dan melebur menjadi satu, maka terjadilah pembuahan dan kehamilan pun tidak dapat dihindari.
Boy menceritakan pengalamannya ketika praktik.Pernah ada seorang pasien yang datang kepadanya dinyatakan positif hamil. ”Pasien saya itu katakan adalah,’kokbisa ya dok padahal saya pakai celana dalam loh’,”kata Boy.Ia lantas mengatakan, jika si pria telah mengeluarkan cairan sperma,maka risiko kehamilan pun sangat besar. Kalau kehamilan sudah terjadi, jalan keluar yang paling aman dilakukan menurut mereka adalah dengan melakukan tindakan aborsi. Banyak pula informasi beredar yang mengatakan aborsi aman dan tanpa efek samping.
Ya benar,memang tidak ada efek samping untuk jangka pendek.Namun, untuk jangka waktu panjang, bersiaplah menghadapi penyakit mematikan yang mungkin diderita. Salah satunya kanker leher rahim atau serviks.Penyakit mematikan ini, terjadi karena dipicu lantaran berhubungan badan ketika usia masih di bawah 20 tahun.Pada usia ini,leher rahim masih teramat rentan dan karenanya amat mudah dimasuki virus human papillomavirus (HPV) yang sangat aktif.Penyakit ini baru akan dialami tubuh dalam waktu 10-20 tahun ke depan.
Berhubungan seks pada masa remaja, selain berisiko mengidap penyakit seperti kanker,juga berisiko tertular penyakit kelamin. Ada banyak penyakit menular kelamin selain HPV.Penyakit yang paling umum di antaranya klamadia, penyakit ini tidak memiliki gejaladitahapawal. Namun,dapatmengarah ke masalah serius seperti kemandulan bila tidak ditangani. Penyakit ini mudah diobati dengan antibiotik.Ada pula gonorea,yakni infeksi tanpa menunjukkan gejala yang dapat mengarah pada kemandulan. Sementara,penyakit yang sangat serius menyerang sistem kekebalan tubuh dan belum diketahui obatnya, serta bisa menyebabkan kematian adalah HIV dan AIDS.
Penyakit menular seksual ini ditularkan dalam banyak cara,terutama melalui pertukaran cairan tubuh, seperti air mani,cairan vagina, dan darah.”Namun, seperti penyakit- penyakit lain,misalnya kutil kelamin, dapatditularkanmelaluikontak kulit,”tutur Boy.(sri noviarni)
Sumber: Koran SINDO
Remaja adalah generasi penerus bangsa dan tulang punggung dari masa depan negeri ini bahkan planet ini.
Feedjit
Cervical Cancer atau Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim) ternyata meningkat resikonya bagi wanita yang melakukan seks di usia dini. Berikut ini artikel yang diambil dari detikHealth:
Impian menikah muda, punya pendamping, anak, rumah dan menggapai bahagia di masa muda rasanya memang menyenangkan bagi beberapa perempuan. Tapi hati-hati, kawin muda terutama di bawah 17 tahun justru berisiko.
Cervical Cancer atau Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim) ternyata meningkat resikonya bagi wanita yang melakukan seks di usia dini. Berikut ini artikel yang diambil dari detikHealth:
Impian menikah muda, punya pendamping, anak, rumah dan menggapai bahagia di masa muda rasanya memang menyenangkan bagi beberapa perempuan. Tapi hati-hati, kawin muda terutama di bawah 17 tahun justru berisiko kena kanker serviks.
Kanker serviks (leher rahim) merupakan kanker terbanyak pada perempuan Indonesia selain kanker payudara. Setiap harinya diperkirakan ada 20 perempuan meninggal dunia karena kanker ini.
“Salah satu penyebab kanker serviks adalah kawin di usia muda, terutama di bawah 17 tahun. Semakin muda usia pertama kali berhubungan seks, semakin besar risiko daerah reproduksi terkontaminasi virus,” kata Dr dr Laila Nuranna, SpOG(K) dalam acara Women’s Health Expo di Puri Agung Sahid Jaya Hotel, Sabtu (6/2/2010).
Fenomena nikah muda banyak terjadi di kampung-kampung atau daerah pedesaan, tapi saat ini tidak sedikit juga orang kota yang melakukan nikah muda.
Selain menikah muda, dr Laila juga menyebutkan faktor lain penyebab kanker serviks diantaranya wanita yang berusia 30-50 tahun, infeksi pada kelamin, banyak berhubungan seksual, merokok, kurang vitamin A/C/E.
Menurut dr Laila, kanker serviks tidak akan muncul begitu saja, tapi butuh waktu 3-17 tahun untuk menjadi kanker, gejala awalnya pun tidak akan terlihat.
“Pada tahap awal penyakit ini tidak menimbulkan keluhan atau gejala klinis. Tapi pada stadium lanjut gejalanya adalah keputihan yang berbau dan bercampur darah, pendarahan di luar haid, pendarahan setelah senggama, nyeri panggul atau tidak dapat buang air kecil,” jelas dr Laila.
Jika kanker serviks ditemukan pada tahap prakanker, maka peluang untuk sembuh sangat besar, untuk itulah pentingnya pemeriksaan.
Pemeriksaan bisa dilakukan dengan tes pap smear, IVA, kolposkopi atau tes HPV-DNA. Saat ini juga sudah ada vaksin untuk mencegah infeksi HPV onkogenik 16 dan 18 yang diperkirakan menjadi penyebab 70 persen kasus kanker serviks di dunia.
Vaksinasi telah direkomendasikan oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dan HOGI (Himpunan Onkologi Genekologi Indonesia) untuk dapat mulai diberikan pada remaja putri mulai usia 10 tahun.
Jadi jangan menunggu lagi, segera lakukan deteksi dini. “Vaksinasi dengan deteksi dini bersama-sama dapat mengurangi kejadian kanker serviks secara efektif
Impian menikah muda, punya pendamping, anak, rumah dan menggapai bahagia di masa muda rasanya memang menyenangkan bagi beberapa perempuan. Tapi hati-hati, kawin muda terutama di bawah 17 tahun justru berisiko.
Cervical Cancer atau Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim) ternyata meningkat resikonya bagi wanita yang melakukan seks di usia dini. Berikut ini artikel yang diambil dari detikHealth:
Impian menikah muda, punya pendamping, anak, rumah dan menggapai bahagia di masa muda rasanya memang menyenangkan bagi beberapa perempuan. Tapi hati-hati, kawin muda terutama di bawah 17 tahun justru berisiko kena kanker serviks.
Kanker serviks (leher rahim) merupakan kanker terbanyak pada perempuan Indonesia selain kanker payudara. Setiap harinya diperkirakan ada 20 perempuan meninggal dunia karena kanker ini.
“Salah satu penyebab kanker serviks adalah kawin di usia muda, terutama di bawah 17 tahun. Semakin muda usia pertama kali berhubungan seks, semakin besar risiko daerah reproduksi terkontaminasi virus,” kata Dr dr Laila Nuranna, SpOG(K) dalam acara Women’s Health Expo di Puri Agung Sahid Jaya Hotel, Sabtu (6/2/2010).
Fenomena nikah muda banyak terjadi di kampung-kampung atau daerah pedesaan, tapi saat ini tidak sedikit juga orang kota yang melakukan nikah muda.
Selain menikah muda, dr Laila juga menyebutkan faktor lain penyebab kanker serviks diantaranya wanita yang berusia 30-50 tahun, infeksi pada kelamin, banyak berhubungan seksual, merokok, kurang vitamin A/C/E.
Menurut dr Laila, kanker serviks tidak akan muncul begitu saja, tapi butuh waktu 3-17 tahun untuk menjadi kanker, gejala awalnya pun tidak akan terlihat.
“Pada tahap awal penyakit ini tidak menimbulkan keluhan atau gejala klinis. Tapi pada stadium lanjut gejalanya adalah keputihan yang berbau dan bercampur darah, pendarahan di luar haid, pendarahan setelah senggama, nyeri panggul atau tidak dapat buang air kecil,” jelas dr Laila.
Jika kanker serviks ditemukan pada tahap prakanker, maka peluang untuk sembuh sangat besar, untuk itulah pentingnya pemeriksaan.
Pemeriksaan bisa dilakukan dengan tes pap smear, IVA, kolposkopi atau tes HPV-DNA. Saat ini juga sudah ada vaksin untuk mencegah infeksi HPV onkogenik 16 dan 18 yang diperkirakan menjadi penyebab 70 persen kasus kanker serviks di dunia.
Vaksinasi telah direkomendasikan oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dan HOGI (Himpunan Onkologi Genekologi Indonesia) untuk dapat mulai diberikan pada remaja putri mulai usia 10 tahun.
Jadi jangan menunggu lagi, segera lakukan deteksi dini. “Vaksinasi dengan deteksi dini bersama-sama dapat mengurangi kejadian kanker serviks secara efektif
Posted on
Minggu, 25 April 2010 |
0
komentar
REMAJA DAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH
Summary:dhi_u
*REMAJA DAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH* Remaja kota kini semakin berani melakukan hubungan seksual pranikah.
Nampaknya hal itu berkaitan dengan hasil sebuah penelitian, 10 - 12% remaja
di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang. Ini mengisyaratkan pendidikan seks bagi anak dan remaja secara intensif
terutama di rumah dan di sekolah, makin penting. Pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya ketimbang tidak
tahu sama sekali. Kata-kata bijak ini nampaknya juga berlaku bagi para
remaja tentang pengetahuan seks kendati dalam hal ini ketidaktahuan bukan
berarti lebih tidak berbahaya. Data yang dikumpulkan dr. Boyke Dian Nugraha,
DSOG, ahli kebidanan dan penyakit kandungan pada RS Dharmais, menunjukkan 16
- 20% dari remaja yang berkonsultasi kepadanya telah melakukan hubungan seks
pranikah. Dalam catatannya jumlah kasus itu cenderung naik; awal tahun
1980-an angka itu berkisar 5 - 10%. Sementara itu Dra. Yulia S. Singgih Gunarsa, psikolog dan konselor di sebuah
sekolah swasta di Jakarta, juga melihat fenomena banyaknya pasangan remaja
yang berhubungan dengan calo jasa pengguguran kandungan di Jakarta Pusat dan
penggunaan obat-obat pencegah kehamilan.
Dalam kaitan dengan hubungan seksual, bisa diambil contoh ada remaja yang
berpendapat, kalau hanya sekali bersetubuh, tidak bakal terjadi kehamilan.
Atau, meloncat-loncat atau mandi sampai bersih segera setelah melakukan
hubungan seksual bisa mencegah kehamilan. Pengetahuan seks yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja
untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi. Misalnya
saja, berciuman atau berenang di kolam renang yang "tercemar" sperma bisa
mengakibatkan kehamilan, mimpi basah dikira mengidap penyakit kotor, kecil
hati gara-gara ukuran penis kecil, sering melakukan onani bisa menimbulkan
impotensi. Beberapa akibat yang tentunya memprihatinkan ialah terjadinya pengguguran
kandungan dengan berbagai risikonya, perceraian pasangan keluarga muda, atau
terjangkitnya penyakit menular seksual, termasuk HIV yang kini sudah
mendekam di tubuh ratusan orang di Indonesia. Bandingkan dengan temuan
Marlene M. Maheu, Ph.D., psikolog yang berpraktek di Kalifornia, AS, bahwa
setiap tahun terdapat 1 dari 18 gadis remaja Amerika Serikat hamil sebelum
nikah dan 1 dari 5 pasien AIDS tertular HIV pada usia remaja. Dibentak ortu
Melihat kenyataan itu, pendidikan seks secara intensif sejak dini hingga
masa remaja tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi mengingat, "Sebagian
besar penularan AIDS terjadi melalui hubungan seksual," tegas Boyke yang
juga pengasuh rubrik konsultasi seks di majalah dan radio. Kalau tidak,
mereka yang kini remaja tidak bisa berbuat banyak saat memasuki usia
produktif di abad XXI mendatang. Seperti dikutip Boyke, survai oleh WHO tentang pendidikan seks membuktikan,
pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku hubungan seks
sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya penyakit-penyakit
akibat hubungan seks bebas. Disebutkan pula, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak
azasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan di dalamnya
sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga. Dengan itu
diharapkan angka perceraian yang berdampak kurang baik terhadap anak-anak
pun dapat dikurangi. Hanya yang jadi soal hingga kini, "Pendidikan seks di Indonesia masih
mengundang kontroversi. Masih banyak anggota masyarakat yang belum
menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah," tutur dr. Gerard
Dampaknya tentu bisa ke mana-mana. Antara lain dalam memilih konsumsi
tontonan di TV yang masih berat dengan tayangan film barat dengan budaya dan
gaya hidup yang berbeda. Kehidupan dunia barat yang digambarkan dalam film
ataupun video, menurut Boyke, sering kali menunjukkan kehidupan seks bebas
di kalangan remaja. Itu bukan semata-mata karena faktor
ketagihan, tapi terutama akibat timbulnya persepsi bahwa melakukan hubungan
seksual sudah merupakan hal biasa. Dr. Gerard Paat
Sebab itu, pendidikan seks hendaknya menjadi bagian penting dalam pendidikan
di sekolah. Orang tua dan pendidik wajib meluruskan informasi yang tidak
benar disertai penjelasan risiko perilaku seks yang salah. Namun, pendidikan seks di sekolah mestinya hanya pelengkap pendidikan seks
di rumah. Bukan justru menjadi yang utama seperti terjadi selama ini,
kendati pendidikan seks di sekolah, menurut beberapa pengamat tadi, masih
belum optimal. Pacaran jangan dilarang
Pemberian pengetahuan seks mesti di rumah dilakukan sejak dini dan dimulai
dengan perilaku keseharian anak-anak. Ketika masih anak-anak misalnya,
berikan pengertian kepada mereka agar tidak ke luar dari kamar mandi sambil
telanjang, menutup pintu kamar mandi ketika sedang mandi, mengetuk pintu
terlebih dahulu sebelum masuk kamar ortu. Ketika sudah menginjak bangku SD, remaja putri khususnya, mesti sudah
dipersiapkan menghadapi masa akil balik. Pada usia sekitar 14 tahun, remaja
putri maupun putra rata-rata mulai ingin tahu segala sesuatu tentang lawan
jenisnya. "Ini merupakan proses pendewasaan diri, dan tak bisa dicegah,"
tegas Boyke. Di sinilah ortu mesti mulai lebih sering mengadakan pendekatan
dan memasukkan nilai-nilai moral kepada anak. Pada saat mereka mulai berpacaran di usia yang sudah cukup, kata Boyke, tak
perlu dilarang-larang. Berpacaran merupakan latihan pendewasaan dan
pematangan emosi. Dengan berpacaran mereka bisa merasakan rasa rindu atau
rasa memiliki, dan berlatih bagaimana harus ber-sharing dengan pasangan.
Pada masa ini orang tua remaja putri hendaknya berperan menjadi teman
berdiskusi sambil meneliti siapa pacarnya itu. Dalam hal ini dibutuhkan komunikasi lebih terbuka antara ortu-anak. Melalui
Dr. Paat maupun dr. Boyke menyatakan, penjelasan mengenai risiko melakukan
hubungan seksual pranikah perlu ditekankan. Umpamanya, kehamilan,
kemungkinan terinfeksi HIV atau tertular penyakit kelamin kalau
bergonta-ganti pasangan. Bila terjadi kehamilan dan kandungan terpaksa
digugurkan, mereka menghadapi kemungkinan perdarahan, infeksi, kemandulan,
bahkan kematian. Belum lagi stres atau rasa berdosa yang bakal dihadapi si
anak. Juga diingatkan, dengan anak yang mereka lahirkan di luar nikah,
mereka juga yang mesti bertanggungjawab sebagai ayah dan ibunya. Jangan lupa
pula, "Jagalah agar jiwa mereka tidak banyak terganggu, apalagi selama
mereka masih belum dewasa, masih harus sekolah, dan lain-lain," tambah
Yulia. Kapan saja, di mana saja
Penjelasan yang baik mampu membuka mata mereka betapa melakukan hubungan
seksual pranikah itu tidak ada untungnya. Ini misalnya terbukti ketika dr.
Boyke membagikan kuesioner kepada peserta seminar remaja. Jawaban mereka
sebelum dan sesudah mendengarkan ...
REMAJA DAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1799376-remaja-dan-hubungan-seksual-pranikah/
Summary:dhi_u
*REMAJA DAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH* Remaja kota kini semakin berani melakukan hubungan seksual pranikah.
Nampaknya hal itu berkaitan dengan hasil sebuah penelitian, 10 - 12% remaja
di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang. Ini mengisyaratkan pendidikan seks bagi anak dan remaja secara intensif
terutama di rumah dan di sekolah, makin penting. Pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya ketimbang tidak
tahu sama sekali. Kata-kata bijak ini nampaknya juga berlaku bagi para
remaja tentang pengetahuan seks kendati dalam hal ini ketidaktahuan bukan
berarti lebih tidak berbahaya. Data yang dikumpulkan dr. Boyke Dian Nugraha,
DSOG, ahli kebidanan dan penyakit kandungan pada RS Dharmais, menunjukkan 16
- 20% dari remaja yang berkonsultasi kepadanya telah melakukan hubungan seks
pranikah. Dalam catatannya jumlah kasus itu cenderung naik; awal tahun
1980-an angka itu berkisar 5 - 10%. Sementara itu Dra. Yulia S. Singgih Gunarsa, psikolog dan konselor di sebuah
sekolah swasta di Jakarta, juga melihat fenomena banyaknya pasangan remaja
yang berhubungan dengan calo jasa pengguguran kandungan di Jakarta Pusat dan
penggunaan obat-obat pencegah kehamilan.
Dalam kaitan dengan hubungan seksual, bisa diambil contoh ada remaja yang
berpendapat, kalau hanya sekali bersetubuh, tidak bakal terjadi kehamilan.
Atau, meloncat-loncat atau mandi sampai bersih segera setelah melakukan
hubungan seksual bisa mencegah kehamilan. Pengetahuan seks yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja
untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi. Misalnya
saja, berciuman atau berenang di kolam renang yang "tercemar" sperma bisa
mengakibatkan kehamilan, mimpi basah dikira mengidap penyakit kotor, kecil
hati gara-gara ukuran penis kecil, sering melakukan onani bisa menimbulkan
impotensi. Beberapa akibat yang tentunya memprihatinkan ialah terjadinya pengguguran
kandungan dengan berbagai risikonya, perceraian pasangan keluarga muda, atau
terjangkitnya penyakit menular seksual, termasuk HIV yang kini sudah
mendekam di tubuh ratusan orang di Indonesia. Bandingkan dengan temuan
Marlene M. Maheu, Ph.D., psikolog yang berpraktek di Kalifornia, AS, bahwa
setiap tahun terdapat 1 dari 18 gadis remaja Amerika Serikat hamil sebelum
nikah dan 1 dari 5 pasien AIDS tertular HIV pada usia remaja. Dibentak ortu
Melihat kenyataan itu, pendidikan seks secara intensif sejak dini hingga
masa remaja tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi mengingat, "Sebagian
besar penularan AIDS terjadi melalui hubungan seksual," tegas Boyke yang
juga pengasuh rubrik konsultasi seks di majalah dan radio. Kalau tidak,
mereka yang kini remaja tidak bisa berbuat banyak saat memasuki usia
produktif di abad XXI mendatang. Seperti dikutip Boyke, survai oleh WHO tentang pendidikan seks membuktikan,
pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku hubungan seks
sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya penyakit-penyakit
akibat hubungan seks bebas. Disebutkan pula, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak
azasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan di dalamnya
sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga. Dengan itu
diharapkan angka perceraian yang berdampak kurang baik terhadap anak-anak
pun dapat dikurangi. Hanya yang jadi soal hingga kini, "Pendidikan seks di Indonesia masih
mengundang kontroversi. Masih banyak anggota masyarakat yang belum
menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah," tutur dr. Gerard
Dampaknya tentu bisa ke mana-mana. Antara lain dalam memilih konsumsi
tontonan di TV yang masih berat dengan tayangan film barat dengan budaya dan
gaya hidup yang berbeda. Kehidupan dunia barat yang digambarkan dalam film
ataupun video, menurut Boyke, sering kali menunjukkan kehidupan seks bebas
di kalangan remaja. Itu bukan semata-mata karena faktor
ketagihan, tapi terutama akibat timbulnya persepsi bahwa melakukan hubungan
seksual sudah merupakan hal biasa. Dr. Gerard Paat
Sebab itu, pendidikan seks hendaknya menjadi bagian penting dalam pendidikan
di sekolah. Orang tua dan pendidik wajib meluruskan informasi yang tidak
benar disertai penjelasan risiko perilaku seks yang salah. Namun, pendidikan seks di sekolah mestinya hanya pelengkap pendidikan seks
di rumah. Bukan justru menjadi yang utama seperti terjadi selama ini,
kendati pendidikan seks di sekolah, menurut beberapa pengamat tadi, masih
belum optimal. Pacaran jangan dilarang
Pemberian pengetahuan seks mesti di rumah dilakukan sejak dini dan dimulai
dengan perilaku keseharian anak-anak. Ketika masih anak-anak misalnya,
berikan pengertian kepada mereka agar tidak ke luar dari kamar mandi sambil
telanjang, menutup pintu kamar mandi ketika sedang mandi, mengetuk pintu
terlebih dahulu sebelum masuk kamar ortu. Ketika sudah menginjak bangku SD, remaja putri khususnya, mesti sudah
dipersiapkan menghadapi masa akil balik. Pada usia sekitar 14 tahun, remaja
putri maupun putra rata-rata mulai ingin tahu segala sesuatu tentang lawan
jenisnya. "Ini merupakan proses pendewasaan diri, dan tak bisa dicegah,"
tegas Boyke. Di sinilah ortu mesti mulai lebih sering mengadakan pendekatan
dan memasukkan nilai-nilai moral kepada anak. Pada saat mereka mulai berpacaran di usia yang sudah cukup, kata Boyke, tak
perlu dilarang-larang. Berpacaran merupakan latihan pendewasaan dan
pematangan emosi. Dengan berpacaran mereka bisa merasakan rasa rindu atau
rasa memiliki, dan berlatih bagaimana harus ber-sharing dengan pasangan.
Pada masa ini orang tua remaja putri hendaknya berperan menjadi teman
berdiskusi sambil meneliti siapa pacarnya itu. Dalam hal ini dibutuhkan komunikasi lebih terbuka antara ortu-anak. Melalui
Dr. Paat maupun dr. Boyke menyatakan, penjelasan mengenai risiko melakukan
hubungan seksual pranikah perlu ditekankan. Umpamanya, kehamilan,
kemungkinan terinfeksi HIV atau tertular penyakit kelamin kalau
bergonta-ganti pasangan. Bila terjadi kehamilan dan kandungan terpaksa
digugurkan, mereka menghadapi kemungkinan perdarahan, infeksi, kemandulan,
bahkan kematian. Belum lagi stres atau rasa berdosa yang bakal dihadapi si
anak. Juga diingatkan, dengan anak yang mereka lahirkan di luar nikah,
mereka juga yang mesti bertanggungjawab sebagai ayah dan ibunya. Jangan lupa
pula, "Jagalah agar jiwa mereka tidak banyak terganggu, apalagi selama
mereka masih belum dewasa, masih harus sekolah, dan lain-lain," tambah
Yulia. Kapan saja, di mana saja
Penjelasan yang baik mampu membuka mata mereka betapa melakukan hubungan
seksual pranikah itu tidak ada untungnya. Ini misalnya terbukti ketika dr.
Boyke membagikan kuesioner kepada peserta seminar remaja. Jawaban mereka
sebelum dan sesudah mendengarkan ...
REMAJA DAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1799376-remaja-dan-hubungan-seksual-pranikah/
Apa kamu termasuk orang yang menoleransi seks pranikah? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya bila kita menyimak lebih dulu tentang dampak yang mungkin ditimbulkan oleh seks yang dilakukan sebelum menikah.
Banyak wanita dengan naif berpikir bahwa pria bakal bersedia mengikatkan diri lebih dalam lagi setelah mereka berhubungan seks. Hal ini tentu tidak benar, sebab dilihat dari sisi karakter pria pada umumnya, hanya satu saja yang bisa mengikat seorang pria untuk tetap melekat pada kekasihnya, yaitu cinta, dan bukan seks. Meski pria suka seks, namun wanita tidak bisa 'membeli' hati kaum berkumis ini dengan menawarkan seks.
Faktor lain adalah karena ingin masuk pernikahan dengan cap 'berpengalaman' dan mahir dalam berhubungan. Namun, coba pikirkan lagi, pria mana yang mau menikah dengan wanita yang memiliki pengalaman dijamah oleh banyak pria sebelumnya.
Meski makin marak dilakukan akhir-akhir ini, namun baik di negara maju atau negara berkembang, seks pranikah tetap saja menyandang citra buruk. Apalagi ditambah dengan banyaknya faktor merugikan yang bakal ditanggung oleh seseorang yang berhubungan seks di luar nikah, dan seperti yang kita ketahui bersama, beban berat terutama berada di pundak pihak wanita.
Hamil di luar nikah, rasa malu, penularan penyakit kelamin, cap buruk dari masyarakat, penyesalan karena memberikan seks pertama pada kekasih yang brengsek, dan hilangnya keperawanan yang berharga merupakan beberapa kerugian fatal yang didapat bila seorang wanita single memberikan diri pada pria yang bukan suaminya.
Sebaliknya, image 'wanita mahal' yang susah didapatkan, cap moral baik, masih perawan, dan kesan berharga akan disandang oleh wanita yang mampu menahan diri untuk tidak berhubungan intim hingga ia masuk ke dalam pernikahan yang sah. Mau termasuk golongan manakah kamu?!
Banyak wanita dengan naif berpikir bahwa pria bakal bersedia mengikatkan diri lebih dalam lagi setelah mereka berhubungan seks. Hal ini tentu tidak benar, sebab dilihat dari sisi karakter pria pada umumnya, hanya satu saja yang bisa mengikat seorang pria untuk tetap melekat pada kekasihnya, yaitu cinta, dan bukan seks. Meski pria suka seks, namun wanita tidak bisa 'membeli' hati kaum berkumis ini dengan menawarkan seks.
Faktor lain adalah karena ingin masuk pernikahan dengan cap 'berpengalaman' dan mahir dalam berhubungan. Namun, coba pikirkan lagi, pria mana yang mau menikah dengan wanita yang memiliki pengalaman dijamah oleh banyak pria sebelumnya.
Meski makin marak dilakukan akhir-akhir ini, namun baik di negara maju atau negara berkembang, seks pranikah tetap saja menyandang citra buruk. Apalagi ditambah dengan banyaknya faktor merugikan yang bakal ditanggung oleh seseorang yang berhubungan seks di luar nikah, dan seperti yang kita ketahui bersama, beban berat terutama berada di pundak pihak wanita.
Hamil di luar nikah, rasa malu, penularan penyakit kelamin, cap buruk dari masyarakat, penyesalan karena memberikan seks pertama pada kekasih yang brengsek, dan hilangnya keperawanan yang berharga merupakan beberapa kerugian fatal yang didapat bila seorang wanita single memberikan diri pada pria yang bukan suaminya.
Sebaliknya, image 'wanita mahal' yang susah didapatkan, cap moral baik, masih perawan, dan kesan berharga akan disandang oleh wanita yang mampu menahan diri untuk tidak berhubungan intim hingga ia masuk ke dalam pernikahan yang sah. Mau termasuk golongan manakah kamu?!
Kurikulum pendidikan seks (sex education) di sekolah-sekolah selama ini dinilai kurang efektif dalam menanggulangi seks bebas di kalangan remaja. Oleh karenanya, peran orangtua menjadi sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai moral, etika, hukum dan agama.
Pergaulan seks bebas di kalangan remaja Indonesia saat ini sangatlah memprihatinkan. Berdasarkan penelitian, tiap hari 100 remaja melakukan aborsi. Jika dihitung pertahun, 36 ribu janin dibunuh oleh remaja dari rahimnya. Belum lagi pengaruh teknologi informasi yang tak terkendali membuat remaja lebih mudah mengakses pengetahuan tentang seks lewat internet, film porno dan majalah porno.
Prof dr Dadang Hawari, psikiater, mengatakan, pengaruh gaya hidup barat sebagai penyebab para remaja mengabaikan nilai-nilai moral. Mereka cenderung menganggap seks bebas sebagai sesuatu yang wajar.
Padahal, agama melarang keras seks bebas. "Namanya saja perzinahan, mendekatinya saja tentu tidak boleh, apalagi melakukannya. Remaja sekarang ini rentan terkena dampak pengaruh informasi seks yang tidak mendidik dan tidak sesuai kaidah agama," tandas Dadang.
Berdasarkan penelitian, tujuh dari dari sepuluh perempuan telah melakukan hubungan seksual sebelum berumur 20 tahun. Sementara satu dari enam pelajar perempuan aktif bergaul seks bebas. Paling sedikit mereka berganti pasangan dengan empat laki-laki yang berbeda-beda.
Dadang berpendapat, seks bebas di kalangan remaja merupakan tanggung jawab kita bersama. Mereka adalah asset yang harus kita bina mental dan moralitasnya. Informasi yang mereka dapatkan selama ini biasa melalui situs porno dan film porno.
Akses informasi menurut dadang, dapat diperoleh dengan mudah melalui internet, HP, buku komik dewasa dan anak, TV (sinetron, film), CD, playstation, media informasi yang saat ini sangat sangat dekat dengan kesehatan remaja.
"Semua media informasi tersebut menyerbu anak-anak dan dikemas sedemikian rupa sehingga perbuatan seks itu dianggap lumrah dan menyenangkan. Mulai dari berciuman, berhubungan seks sebelum nikah, menjual keperawanan, gonta-ganti pasangan, seks bareng, homo atau lesbi, sampai ke incest, semuanya tersedia dalam berbagai media informasi," papar Dadang.
Lalu bagaimana mengantisipasinya? Menurut Dadang, harus diajarkan pendidikan seks berdasarkan nilai-nilai agama. Bila remaja sejak dini diperkenalkan kepada pendidikan seks yang sesuai dengan agama, hingga seks .
bebas di kalangan remaja sedemikian rupa dapat dihindari.
sumber: www.perempuan.com
Pergaulan seks bebas di kalangan remaja Indonesia saat ini sangatlah memprihatinkan. Berdasarkan penelitian, tiap hari 100 remaja melakukan aborsi. Jika dihitung pertahun, 36 ribu janin dibunuh oleh remaja dari rahimnya. Belum lagi pengaruh teknologi informasi yang tak terkendali membuat remaja lebih mudah mengakses pengetahuan tentang seks lewat internet, film porno dan majalah porno.
Prof dr Dadang Hawari, psikiater, mengatakan, pengaruh gaya hidup barat sebagai penyebab para remaja mengabaikan nilai-nilai moral. Mereka cenderung menganggap seks bebas sebagai sesuatu yang wajar.
Padahal, agama melarang keras seks bebas. "Namanya saja perzinahan, mendekatinya saja tentu tidak boleh, apalagi melakukannya. Remaja sekarang ini rentan terkena dampak pengaruh informasi seks yang tidak mendidik dan tidak sesuai kaidah agama," tandas Dadang.
Berdasarkan penelitian, tujuh dari dari sepuluh perempuan telah melakukan hubungan seksual sebelum berumur 20 tahun. Sementara satu dari enam pelajar perempuan aktif bergaul seks bebas. Paling sedikit mereka berganti pasangan dengan empat laki-laki yang berbeda-beda.
Dadang berpendapat, seks bebas di kalangan remaja merupakan tanggung jawab kita bersama. Mereka adalah asset yang harus kita bina mental dan moralitasnya. Informasi yang mereka dapatkan selama ini biasa melalui situs porno dan film porno.
Akses informasi menurut dadang, dapat diperoleh dengan mudah melalui internet, HP, buku komik dewasa dan anak, TV (sinetron, film), CD, playstation, media informasi yang saat ini sangat sangat dekat dengan kesehatan remaja.
"Semua media informasi tersebut menyerbu anak-anak dan dikemas sedemikian rupa sehingga perbuatan seks itu dianggap lumrah dan menyenangkan. Mulai dari berciuman, berhubungan seks sebelum nikah, menjual keperawanan, gonta-ganti pasangan, seks bareng, homo atau lesbi, sampai ke incest, semuanya tersedia dalam berbagai media informasi," papar Dadang.
Lalu bagaimana mengantisipasinya? Menurut Dadang, harus diajarkan pendidikan seks berdasarkan nilai-nilai agama. Bila remaja sejak dini diperkenalkan kepada pendidikan seks yang sesuai dengan agama, hingga seks .
bebas di kalangan remaja sedemikian rupa dapat dihindari.
sumber: www.perempuan.com
15 PERSEN ABORSI ILEGAL DILAKUKAN OLEH KELOMPOK USIA REMAJA KURANG DARI 20 TAHUN.
Berdasarkan hasil penelitian Women Research Institute sepanjang 2008 hingga 2009 terungkap, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia mencapai 228 per100.000 kelahiran hidup.
Dari studi itu juga diketahui, penyebab utama AKI d Indonesia antara lain, perdarahan dan terjadi infeksi saat bersalin. Dan, yang paling mengkhawatirkan, di balik angka di atas tersembunyi beberapa kasus aborsi yang menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu.
Ditaksir, 2,3 juta abortus tidak aman terjadi setiap tahun di Indonesia. “Sebanyak 1 juta keguguran spontan, 700 ribu karena kehamilan tidak diinginkan, dan 600 ribu karena kegagalan KB,” ujar Kepala Komite Ahli Kesehatan Reproduksi, Roy Tjiong yang ditemui pada Peluncuran Dan Diskusi Buku Target MDG's Menurunkan Angka Kematian Ibu Tahun 2015 Sulit Dicapai, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Rabu 24 Maret 2010.
Dari hasil penelitian, Roy mengatakan, 15 persen aborsi dilakukan oleh kelompok usia remaja kurang dari 20 tahun. Rata-rata kehamilan yang menjalani aborsi atau digugurkan adalah kehamilan tanpa alat kontrasepsi. “Dan perlu diketahui, risiko kematian pada kehamilan remaja dua kali lebih tinggi."
Efeknya, tak hanya mematikan nyawa seorang janin, tapi juga berisiko tinggi mengancam jiwa wanita yang melakukannya, dan bahkan berisiko menyebabkan gangguan kesehatan lainnya. "Untuk itu,perlu ada upaya pendekatan dengan remaja, dan sosialisasi bahaya aborsi bagi remaja dan wanita pada umumnya,” kata Roy menjelaskan. (Vivanews)
Berdasarkan hasil penelitian Women Research Institute sepanjang 2008 hingga 2009 terungkap, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia mencapai 228 per100.000 kelahiran hidup.
Dari studi itu juga diketahui, penyebab utama AKI d Indonesia antara lain, perdarahan dan terjadi infeksi saat bersalin. Dan, yang paling mengkhawatirkan, di balik angka di atas tersembunyi beberapa kasus aborsi yang menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu.
Ditaksir, 2,3 juta abortus tidak aman terjadi setiap tahun di Indonesia. “Sebanyak 1 juta keguguran spontan, 700 ribu karena kehamilan tidak diinginkan, dan 600 ribu karena kegagalan KB,” ujar Kepala Komite Ahli Kesehatan Reproduksi, Roy Tjiong yang ditemui pada Peluncuran Dan Diskusi Buku Target MDG's Menurunkan Angka Kematian Ibu Tahun 2015 Sulit Dicapai, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Rabu 24 Maret 2010.
Dari hasil penelitian, Roy mengatakan, 15 persen aborsi dilakukan oleh kelompok usia remaja kurang dari 20 tahun. Rata-rata kehamilan yang menjalani aborsi atau digugurkan adalah kehamilan tanpa alat kontrasepsi. “Dan perlu diketahui, risiko kematian pada kehamilan remaja dua kali lebih tinggi."
Efeknya, tak hanya mematikan nyawa seorang janin, tapi juga berisiko tinggi mengancam jiwa wanita yang melakukannya, dan bahkan berisiko menyebabkan gangguan kesehatan lainnya. "Untuk itu,perlu ada upaya pendekatan dengan remaja, dan sosialisasi bahaya aborsi bagi remaja dan wanita pada umumnya,” kata Roy menjelaskan. (Vivanews)
Dalam psikologi perkembangan remaja dikenal sedang dalam fase pencarian jati diri yang penuh dengan kesukaran dan persoalan. Fase perkembangan remaja ini berlangsung cukup lama kurang lebih 11 tahun, mulai usia 11-19 tahun pada wanita dan 12-20 tahun pada pria. Fase perkebangan remaja ini dikatakan fase pencarian jati diri yang penuh dengan kesukaran dan persoalan adalah karena dalam fase ini remaja sedang berada di antara dua persimpangan antara dunia anak-anak dan dunia orang-orang dewasa.
Kesulitan dan persoalan yang muncul pada fase remaja ini bukan hanya muncul pada diri remaja itu sendiri melainkan juga pada orangtua, guru dan masyarakat. Dimana dapat kita lihat seringkali terjadi pertentangan antara remaja dengan orangtua, remaja dengan guru bahkan dikalangan remaja itu sendiri.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Secara singkat dapat dijelaskan bahwa keberadaan remaja yang ada di antara dua persimpangan fase perkembanganlah (fase interim) yang membuat fase remaja penuh dengan kesukaran dan persoalan. Dapat dipastikan bahwa seseorang yang sedang dalam keadaan transisi atau peralihan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain seringkali mengalami gejolak dan goncangan yang terkadang dapat berakibat buruk bahkan fatal (menyebabkan kematian).(Syah, 2001)
Namun, pada dasarnya semua kesukaran dan persoalan yang muncul pada fase perkembangan remaja ini dapat diminimalisir bahkan dihilangkan, jika orangtua, guru dan masyarakat mampu memahami perkembangan jiwa, perkembangan kesehatan mental remaja dan mampu meningkatkan kepercayaan diri remaja.Persoalan paling signifikan yang sering dihadapi remaja sehari-hari sehingga menyulitkannya untuk beradaptasi dengan lingkungannya adalah hubungan remaja dengan orang yang lebih dewasa, terutama sang ayah, dan perjuangannya secara bertahap untuk bisa membebaskan diri dari dominasi mereka pada level orang-orang dewasa.
Seringkali orangtua mencampuri urusan-urusan pribadi anaknya yang sudah remaja dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut, “Dimana kamu semalam?”, “Dengan siapa kamu pergi?”, “Apa yang kamu tonton?” dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya ditujukan oleh orangtua adalah karena kepedulian orangtua terhadap keberadaan dan keselamatan anak remajanya. Namun ditelinga dan dipersepsi anak pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti introgasi seorang polisi terhadap seorang criminal yang berhasil ditangkap.
Menurut pandangan para ahli psikologi keluarga atau orangtua yang baik adalah orangtua yang mampu memperkenalkan kebutuhan remaja berikut tantangan-tantangannya untuk bisa bebas kemudian membantu dan mensupportnya secara maksimal dan memberikan kesempatan serta sarana-sarana yang mengarah kepada kebebasan. Selain itu remaja juga diberi dorongan untuk memikul tanggung jawab, mengambil keputusan, dan merencanakan masa depannya. Namun, proses pemahaman ini tidak terjadi secara cepat, perlu kesabaran dan ketulusan orangtua di dalam membimbing dan mengarahkan anak remajanya.
Selanjutnya para pakar psikologi menyarankan strategi yang paling bagus dan cocok dengan remaja adalah strategi menghormati kecenderungannya untuk bebas merdeka tanpa mengabaikan perhatian orangtua kepada mereka. Strategi ini selain dapat menciptakan iklim kepercayaan antara orangtua dan anak, dapat juga mengajarkan adaptasi atau penyesuaian diri yang sehat pada remaja. Hal ini sangat membantu perkembangan, kematangan, dan keseimbangan jiwa remaja. (Mahfuzh, 2001)
Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi selama masa remaja tidak selalu dapat tertangani secara baik. Pada fase ini di satu sisi remaja masih menunjukkan sifat kekanak-kanakan, namun di sisi lain dituntut untuk bersikap dewasa oleh lingkungannya. Sejalan dengan perkembangan sosialnya, mereka lebih konformitas pada kelompoknya dan mulai melepaskan diri dari ikatan dan kebergantungan kepada orangtuanya, dan sering menunjukkan sikap menantang otoritas orangtuanya.
Remaja yang salah penyesuaian dirinya terkadang melakukan tindakan-tindakan yang tidak realistis, bahkan cenderung melarikan diri dari tanggung jawabnya. Perilaku mengalihkan masalah yang dihadapi dengan mengkonsumsi minuman beralkohol banyak dilakukan oleh kelompok remaja, bahkan sampai mencapai tingkat ketergantungan penyalahgunaan obat terlarang dan zat adiktif.
Berkaitan dengan pelepasan tangung jawab, dikalangan remaja juga sering dijumpai banyak usaha untuk bunuh diri. di Negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, Selandia Baru, masalah bunuh diri dikalangan remaja berada pada tingkat yang memprihatinkan. Sedangkan dinegara berkembang seperti Indonesia, perilaku tidak sehat remaja yang beresiko kecelakaan juga banyak dilakukan remaja, seperti berkendaraan secara ugal-ugalan. Hal lain yang menjadi persoalan penting dikalangan remaja disemua negara adalah, meningkatnya angka delinkuensi. Perilaku tersebut misalnya keterlibatan remaja dalam perkelahian antar sesame, kabur dari rumah, melakukan tindakan kekerasan, dan berbagai pelanggaran hukum, adalah umum dilakukan oleh remaja.
Kesehatan mental masyarakat pada dasarnya tercermin dari segi-segi kesehatan mental remaja. Makin tinggi angka delikuensi, bunuh diri remaja, penggunaan obat dan ketergantungan pada zat adiktif, berarti kesehatan mental masyarakat makin rendah.Usaha bimbingan kesehatan mental sangat penting dilakukan dikalangan remaja, dalam bentuk program-program khusus, seperti peningkatan kesadaran terhadap kesehatan mental, penyuluhan tentang kehidupan berumah tangga, hidup secara sehat dan pencegahan penggunaan zat-zat adiktif, serta penyuluhan tentang pencegahan terhadap HIV/AIDS, dan sejenisnya.
Program kesehatan mental remaja ini dapat dilakukan melalui institusi-institusi formal remaja, seperti sekolah, dan dapat pula melalui intervensi-intervensi lain seperti program-program kemasyarakatan, atau program-program yang dibuat khusus untuk kelompok remaja.
Kesulitan dan persoalan yang muncul pada fase remaja ini bukan hanya muncul pada diri remaja itu sendiri melainkan juga pada orangtua, guru dan masyarakat. Dimana dapat kita lihat seringkali terjadi pertentangan antara remaja dengan orangtua, remaja dengan guru bahkan dikalangan remaja itu sendiri.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Secara singkat dapat dijelaskan bahwa keberadaan remaja yang ada di antara dua persimpangan fase perkembanganlah (fase interim) yang membuat fase remaja penuh dengan kesukaran dan persoalan. Dapat dipastikan bahwa seseorang yang sedang dalam keadaan transisi atau peralihan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain seringkali mengalami gejolak dan goncangan yang terkadang dapat berakibat buruk bahkan fatal (menyebabkan kematian).(Syah, 2001)
Namun, pada dasarnya semua kesukaran dan persoalan yang muncul pada fase perkembangan remaja ini dapat diminimalisir bahkan dihilangkan, jika orangtua, guru dan masyarakat mampu memahami perkembangan jiwa, perkembangan kesehatan mental remaja dan mampu meningkatkan kepercayaan diri remaja.Persoalan paling signifikan yang sering dihadapi remaja sehari-hari sehingga menyulitkannya untuk beradaptasi dengan lingkungannya adalah hubungan remaja dengan orang yang lebih dewasa, terutama sang ayah, dan perjuangannya secara bertahap untuk bisa membebaskan diri dari dominasi mereka pada level orang-orang dewasa.
Seringkali orangtua mencampuri urusan-urusan pribadi anaknya yang sudah remaja dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut, “Dimana kamu semalam?”, “Dengan siapa kamu pergi?”, “Apa yang kamu tonton?” dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya ditujukan oleh orangtua adalah karena kepedulian orangtua terhadap keberadaan dan keselamatan anak remajanya. Namun ditelinga dan dipersepsi anak pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti introgasi seorang polisi terhadap seorang criminal yang berhasil ditangkap.
Menurut pandangan para ahli psikologi keluarga atau orangtua yang baik adalah orangtua yang mampu memperkenalkan kebutuhan remaja berikut tantangan-tantangannya untuk bisa bebas kemudian membantu dan mensupportnya secara maksimal dan memberikan kesempatan serta sarana-sarana yang mengarah kepada kebebasan. Selain itu remaja juga diberi dorongan untuk memikul tanggung jawab, mengambil keputusan, dan merencanakan masa depannya. Namun, proses pemahaman ini tidak terjadi secara cepat, perlu kesabaran dan ketulusan orangtua di dalam membimbing dan mengarahkan anak remajanya.
Selanjutnya para pakar psikologi menyarankan strategi yang paling bagus dan cocok dengan remaja adalah strategi menghormati kecenderungannya untuk bebas merdeka tanpa mengabaikan perhatian orangtua kepada mereka. Strategi ini selain dapat menciptakan iklim kepercayaan antara orangtua dan anak, dapat juga mengajarkan adaptasi atau penyesuaian diri yang sehat pada remaja. Hal ini sangat membantu perkembangan, kematangan, dan keseimbangan jiwa remaja. (Mahfuzh, 2001)
Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi selama masa remaja tidak selalu dapat tertangani secara baik. Pada fase ini di satu sisi remaja masih menunjukkan sifat kekanak-kanakan, namun di sisi lain dituntut untuk bersikap dewasa oleh lingkungannya. Sejalan dengan perkembangan sosialnya, mereka lebih konformitas pada kelompoknya dan mulai melepaskan diri dari ikatan dan kebergantungan kepada orangtuanya, dan sering menunjukkan sikap menantang otoritas orangtuanya.
Remaja yang salah penyesuaian dirinya terkadang melakukan tindakan-tindakan yang tidak realistis, bahkan cenderung melarikan diri dari tanggung jawabnya. Perilaku mengalihkan masalah yang dihadapi dengan mengkonsumsi minuman beralkohol banyak dilakukan oleh kelompok remaja, bahkan sampai mencapai tingkat ketergantungan penyalahgunaan obat terlarang dan zat adiktif.
Berkaitan dengan pelepasan tangung jawab, dikalangan remaja juga sering dijumpai banyak usaha untuk bunuh diri. di Negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, Selandia Baru, masalah bunuh diri dikalangan remaja berada pada tingkat yang memprihatinkan. Sedangkan dinegara berkembang seperti Indonesia, perilaku tidak sehat remaja yang beresiko kecelakaan juga banyak dilakukan remaja, seperti berkendaraan secara ugal-ugalan. Hal lain yang menjadi persoalan penting dikalangan remaja disemua negara adalah, meningkatnya angka delinkuensi. Perilaku tersebut misalnya keterlibatan remaja dalam perkelahian antar sesame, kabur dari rumah, melakukan tindakan kekerasan, dan berbagai pelanggaran hukum, adalah umum dilakukan oleh remaja.
Kesehatan mental masyarakat pada dasarnya tercermin dari segi-segi kesehatan mental remaja. Makin tinggi angka delikuensi, bunuh diri remaja, penggunaan obat dan ketergantungan pada zat adiktif, berarti kesehatan mental masyarakat makin rendah.Usaha bimbingan kesehatan mental sangat penting dilakukan dikalangan remaja, dalam bentuk program-program khusus, seperti peningkatan kesadaran terhadap kesehatan mental, penyuluhan tentang kehidupan berumah tangga, hidup secara sehat dan pencegahan penggunaan zat-zat adiktif, serta penyuluhan tentang pencegahan terhadap HIV/AIDS, dan sejenisnya.
Program kesehatan mental remaja ini dapat dilakukan melalui institusi-institusi formal remaja, seperti sekolah, dan dapat pula melalui intervensi-intervensi lain seperti program-program kemasyarakatan, atau program-program yang dibuat khusus untuk kelompok remaja.
Langganan:
Postingan (Atom)
