Konsep Kespro Dalam Islam

Posted on Minggu, 28 Februari 2010 | 0 komentar
Islam adalah agama yang sempurna. Islam datang sebagai pedoman yang menyelesaikan segala persoalan kehidupan manusia termasuk di dalamnya dengan masalah kesehatan. Terciptanya kondisi sehat secara fisik dan jiwa sangat terkait dengan faktor lain yaitu pandangan hidupnya. Jauh sebelum kita membicarakan apa dampak seks bebas dan bagaiaman solusinya, Islam mengajarkan konsep filosofi hidup yang benar yaitu keyakinan kuat menempatkan Alloh sebagai pencipta dan pengatur hidup manusia. Dia melengkapi hidup kita dengan seperangkat aturan yang terbaik yaitu islam. Inilah konsep hidup yang benar & harus ditanamkan pada remaja.

Pergaulan bebas adalah merupakan bentuk pelanggaran terhadap aturan Alloh yang sangat memuliakan pola hubungan dan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Alloh menjunjung tinggi kehormatan perempuan dengan menghalalkan organ reproduksinya hanya melalui satu pintu yaitu pernikahan. Pernikahan bertujuan untuk melahirkan keturunan dan melestarikan jenis manusia (QS. Annisa [4]:1; QS an-Nahl [16]: 72 dan Islam melarang perbuatan zina. Pernikahan merupakan bentuk kontrol reproduksi perempuan bukan sebagai bentuk penjajahan atas kebebasan perempuan. Dengan menikah perempuan akan lebih dimuliakan karena kemampuannya untuk hamil, melahirkan dan memenuhi hak pengasuhan terhadap anak-anaknya. Inilah fitrah perempuan dan ketika menjalani sesuai fitrah ini akan mendatangkan ketenangan hidup dan terjaga kemuliaannya. Sebaliknya, ketika manusia melakukan pelanggaran, akan mendatangkan kemadharatan yang menghancurkan kehidupannya sendiri.

Hubungan seks di luar pernikahan menunjukkan tidak adanya rasa tanggung jawab dan memunculkan rentetan persoalan baru yang menyebabkan gangguan fisik dan psikososial manusia. Bahaya tindakan aborsi, menyebarnya penyakit menular seksual, rusaknya institusi pernikahan, serta ketidakjelasan garis keturunan. Kehidupan keluarga yang diwarnai nilai sekuleristik dan kebebasan hanya akan merusak tatanan keluarga dan melahirkan generasi yang terjauh dari sendi-sendi agama.

Islam tidak menganggap seks sebagai satu-satunya tujuan pernikahan. Namun terciptanya keturunan merupakan aspek terpenting dalam pernikahan. Kehidupan keluarga mengajarkan seseorang agar bertanggung jawab, mengasihi dan mencintai anggota keluarga, berbagi, dan saling memperhatikan. Keluarga ini yang mampu melahirkan generasi bertaqwa. Cinta yang ditimbulkan antara suami-istri akan berkembang menjadi cinta bagi keturunan yang menyebarkan rahmat bagi semesta alam.

”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barang siapa yang mengikuti langkah syetan, maka sesungguhnya dia (syetan) menyuruh perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Alloh dan Rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun diantara kamu bersih dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Alloh membersihkan siapa yang dikehendaki... (An-Nuur (24):21)

Dari paparan di atas betapa bahanyanya budaya seks bebas di kalangan remaja, tidak hanya pada remaja itu sendiri tetapi juga pada lingkungan sosial masyarakat. Islam sebagai agama yang paripurna telah mengatur dengan begitu mulianya pemenuhan kebutuhan seksual manusia. Oleh karena itu sebagai orang tua atau tenaga pendidik perlu untuk mengkaji lebih lanjut cara yang benar dalam Islam dalam memberikan pendidikan seks kepada remaja, termasuk juga mengenalkan kesehatan reproduksi yang bijak dan benar sehingga siap menjadi orangtua yang mendidik generasi unggulan. Bukankah demikian.........



* Disampaikan pada Seminar Regional ”Peran Pendidik Dalam Memahamkan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi” oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang, di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Malang.
Posted on Sabtu, 27 Februari 2010 | 0 komentar

Gaya Berpacaran Remaja Kian Bebas

Posted on Senin, 22 Februari 2010 | 0 komentar
WATES, KOMPAS.com - Gaya berpacaran remaja di wilayah perdesaan kian mengkhawatirkan. Remaja kini tidak lagi sungkan mengajak teman sebayanya untuk berhubungan seks di luar nikah karena termakan propaganda pergaulan bebas di televisi maupun situs internet.

Demikian terungkap dalam sarasehan bertema Pacaran Sehat memperingati Hari Valentine yang di adakan oleh Youth Forum Kulon Progo di Kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Wates, Minggu (14/2/2010). Acara itu diikuti sekitar 50 orang pelajar dari 10 SLTA di Kulon Progo.

Fasilitator Remaja PKBI Budi Prasetyo mengatakan pihaknya pernah mendampingi remaja-remaja di sejumlah desa di Kecamatan Nanggulan, Wates, dan Pengasih, sekitar akhir 2009. Hasil dari pendampingan menunjukkan banyak pasangan remaja terpaksa menikah karena sudah telanjur berhubungan seks dan membuahkan kehamilan yang tidak diinginkan.

Di Desa Jatirejo, Nanggulan, misalnya, puluhan remaja di bawah usia 20 tahun menikah karena alasan itu. "Setelah kami coba telusuri, ternyata pola pacaran remaja desa saat ini sudah mirip remaja kota yang bebas dan berisiko," ujar Budi.

Budi mengungkapkan, alasan remaja putra untuk berhubungan seks dengan kekasihnya umumnya adalah demi gengsi dan kebanggaan di kalangan rekan-rekan sepergaulannya. Sementara remaja putri tidak kuasa menolak ajakan berhubungan seks karena merasa takut kehilangan pacar dan dikucilkan dari pergaulan.

Ditambahkan Margareta Theodora (16), siswi kelas XI SMKN 1 Pengasih, alasan remaja menjalani pergaulan bebas karena ikut-ikutan tayangan sinetron di televisi dan informasi internet. Ia pun menyayangkan peran orangtua yang seolah tutup mata dan tidak bersedia membuka komunikasi dua arah dengan anak-anaknya.

Orangtua kadang hanya sekadar melarang dan membatasi pola pergaulan anak tanpa alasan yang jelas karena dianggap hal tabu untuk dibicarakan. Padahal, remaja butuh penjelasan atau mereka akan mencari sendiri informasi dari teman-teman dan sumber lain yang belum tentu benar, kata Margareta.

Karena itu, dalam sarasehan tersebut, Youth Forum PKBI Kulon Progo merasa perlu menyosialisasikan ulang pacaran yang sehat kepada remaja. Budi mengatakan, pacaran yang sehat memenuhi tiga kriteria, yakni sehat fisik, mental, dan sosial. Pacaran sehat akan dikampanyekan di sekolah-sekolah melalui berbagai media dan perantara pendampin g sebaya.

Selain itu, PKBI juga akan merekomendasikan penambahan materi upaya menghargai diri (self esteem) dalam pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah. Materi ini, menurut Budi, dapat menjadi cara yang efektif bagi remaja untuk menghindari perilaku negatif dalam berpacaran.

"Dengan menghargai dirinya sendiri, maka remaja tidak akan mudah terbujuk rayuan atau mengikuti tren pergaulan bebas. Sebab mereka akan menyadari betul konsekuensi yang bakal ditanggung," ujar Budi.

Kenakalan Remaja

Posted on Rabu, 17 Februari 2010 | 0 komentar
Oleh: AsianBrain.com Content Team

Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.


Definisi kenakalan remaja menurut para ahli

* Kartono, ilmuwan sosiologi
Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang".
* Santrock
"Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."


Sejak kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.

Jenis-jenis kenakalan remaja

* Penyalahgunaan narkoba
* Seks bebas
* Tawuran antara pelajar


Penyebab terjadinya kenakalan remaja
Perilaku 'nakal' remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Faktor internal:

1. Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
2. Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.


Faktor eksternal:

1. Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman sebaya yang kurang baik
3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.


Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja:

1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
3. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com

Puluhan Balita Di Bali Mengidap HIV/AIDS

Posted on | 0 komentar
Gaya hidup bebas di Bali sepertinya semakin menunjukkan dampak yang memprihatinkan. Bagaimana tidak, puluhan bayi di bawah usia lima tahun terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Dan jumlah ini semakin melonjak dan perkembangannya tampak mengkuatirkan, karena serangan HIV/AIDS ini diidap oleh semua kelompok usia.

Komisi penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali dalam laporannya hingga November 2009 menyebutkan dari 3.181 kasus, sedikitnya 19 bayi di bawah 1 tahun positif terjangkit penyakit dan virus mematikan itu. Dari 19 bayi tersebut yang berasal dari orangtua biasa maupun orangtua yang memiliki latar belakang kehidupan seks bebas, yang positif AIDS mencapai 18 bayi, terdiri dari 11 bayi laki-laki dan 7 bayi perempuan, dan hanya seorang bayi perempuan yang terkena HIV.

Pada kelompok 1-4 tahun, yang ditemukan positif terjangkit HIV/AIDS mencapai 43 balita, terdiri dari 29 penderita AIDS (15 balita laki-laki dan 14 balita perempuan) dan 14 penderita HIV (6 balita laki-laki dan 8 balita perempuan).

Hasil ini tentu saja mengundang keprihatinan yang sangat besar. Mercya Soetanto selaku aktivis penanggulangan HIV/AIDS dan juga penghubung media KPA Bali menghimbau kepada setiap wanita usia subur bersama dengan pasangannya secara rutin memeriksakan kesehatannya kepada dokter. Dengan demikian jika di antara pasangan ada yang terjangkit HIV/AIDS dapat diketahui sejak dini dan penderita dapat mencegah terjadinya kehamilan.

Selain balita, kelompok usia 5-14 tahun ditemukan 5 orang positif HIV/AIDS, dengan 3 anak menderita AIDS dan 2 anak tertular HIV. Namun untuk usia 15-19 tahun, penderita mencapai 74 orang dengan 16 anak remaja mengidap AIDS dan 58 anak remaja mengidap HIV.

Selain kelompok usia anak dan remaja ini, penderita terbanyak didapati pada rentang usia 20-39 tahun, yakni mencapai 1.500 orang atau 47,15% dari 3.181 kasus, terdiri dari 615 orang menderita AIDS dan 885 orang terkena HIV. Dalam kelompok usia 30-39 tahun didapati 1.118 orang pengidap HIV/AIDS atau 35,15% dari total kasus, dengan 647 penderita AIDS dan 471 pengidap HIV. Di kelompok usia 40-49 tahun, didapati 332 penderita HIV/AIDS atau 10,44% dari total kasus, dengan 217 penderita AIDS dan 115 orang tertular HIV. Bahkan di rentang usia 50-59 tahun didapati 80 orang positif mengidap HIV/AIDS, terdiri dari 64 orang mengidap AIDS dan 16 orang tertular HIV. Rentang usia di atas 60 tahun ditemukan 10 kasus, terdiri dari 8 orang terjangkit AIDS dan 2 lainnya terkena HIV.

Bagaimanapun juga, tidak ada obat yang lebih ampuh untuk menanggulangi HIV/AIDS selain dengan gaya hidup yang menjunjung tinggi kekudusan, no sex before married dan hanya memiliki satu pasangan sampai maut memisahkan.

Sumber : antaranews

Remaja Putri Indonesia tidak Paham Kewanitaanya

Posted on Jumat, 12 Februari 2010 | 0 komentar
BANDUNG--MI: Hampir seluruh remaja putri Indonesia yang menjadi responden suatu survei tidak dapat menjawab dengan benar pertanyaan tentang organ tubuh yang terkait dengan aspek kewanitaan, demikian hasil survei yang dilakukan sebuah produsen perlengkapan wanita.

"Hampir 0% remaja perempuan di Indonesia tidak paham tentang tubuh mereka, aspek-aspek keperempuanan, termasuk aspek seksual," kata Andy Iskandar, manajer pemasaran perlengkapan wanita PT Kimberly-Clark Indonesia, di Bandung, Rabu (3/2).

Andy Iskandar, kepada pers di sela kampanye pengetahuan kewanitaan yang diikuti siswi sebuah SMP di Bandung, menyatakan, perusahaannya melakukan survei masalah tersebut di enam negara, termasuk Indonesia.

Dari seluruh responden, kata dia, tingkat pengetahuan remaja perempuan mengenai tubuh mereka rata-rata tiga persen. Sedangkan di Indonesia, rata-ratanya nol persen.

Andy juga mengatakan ditemukan fakta bahwa 70% dari perempuan yang disurvei masih percaya pada mitos di tempat tinggalnya. "Misalnya, sekitar 21% remaja perempuan percaya bahwa mereka bisa kehilangan virginitas karena mengayuh sepeda," kata Andy.

Menurut dia, kurangnya pengetahuan para remaja perempuan ini disebabkan oleh minimnya sarana informasi yang terpercaya, seks yang masih dianggap tabu untuk dibicarakan, dan masih berkembangnya mitos.

Sementara itu, ginekolog yang aktif menangani masalah remaja, dr Boy Abidin, mengatakan, remaja Indonesia saat ini sudah berani bereksplorasi dengan seksualitas mereka. "Penelitian Annisa Foundation tahun 2006 di SMP dan SMA di Jabar mengungkapkan, sebanyak 42,3% melakukan hubungna seks pertama kali saat masih di bangku sekolah berdasarkan rasa suka sama suka," kata Boy menjelaskan.

Boy juga mengungkapkan, lebih dari 60% remaja di kota-kota besar di Indonesia melakukan seks pranikah, dan mereka yakin bila cuma sekali tidak akan hamil.

Untuk itu Boy menyatakan pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi pada anak harus diberikan sedini mungkin, yaitu dari mulai si anak bisa berkomunikasi dan disesuaikan dengan daya serap mereka. "Dari sejak TK pun misalnya sudah diajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan dan tentang kelamin," kata Boy.

Psikolog Ratih Ibrahim mengatakan, saat di usia pubertas, seorang anak memiliki keingintahuan yang lebih besar, khususnya tentang hal-hal seksual dan perilaku mereka juga akan berubah.

Ratih menekankan pengaruh lingkungan, khusunya orang tua dan guru sangat penting dalam membantu pendidikan seksualitas anak. Jadi mereka harus memiliki pengetahuan yang benar tentang masalah ini. "Dari penelitian yang kami lakukan, masih banyak remaja perempuan di Indonesia yang setuju bahwa orang tua mereka menganggap membicarakan masalah seks dan juga masalah keperempuanan adalah tabu," ujar Ratih. (Ant/OL-02)

Hubungan Seks Pranikah Mengkhawatirkan

Posted on | 0 komentar
KEBON AGUNG- Berbagai survei yang dilakukan pada sejumlah remaja di Indonesia membuktikan bahwa hubungan seks pra nikah telah dilakukan banyak remaja di usia sekolah. Hal ini cukup mengkhawatirkan, lantaran minimnya pengetahuan para remaja mengenai pendidikan seksologi yang tepat.

Dokter Boy Abidin, Ahli Ginelogi menyatakan, dari penelitian yang dialaksanakan Annisa Foundation tahun 2006 di SMP dan SMU di Jabar mengungkapkan sebesar 42,3 persen hubungan seks pertama kali saat remaja duduk di bangku sekolah.

Sementara survei yang dilangsir BKKBN periode akhir Desember 2008 menyebutkan bahwa 63 persen ramaja di beberapa kota besar di Indonesia telah melakukan seks pra nikah."Namun sebagian besar para remaja ini meyakini bahwa berhubungan seks satu kali tiak menyebabkan kehamilan.

Kondisi ini sangat memprihatinkan dan perlu sekali adanya pembekalan mengenai kesehatan reproduksi, "katanya dalam seminar seksologi dengan tema I Know Campaign yang diadakan di SMPN 6 Semarang, Rabu (10/2) kemarin.

Dia mengatakan, pembekalan dan penyuluhan seputar bodylife knowledge, termasuk pengetahuan seksual sangat penting bagi remaja sekarang. Pasalnya, kebanyakan ramaja saat ini sudah berani bereksplorasi dengan seksualitas mereka.

Persiapan
Hal senada juga diungkapkan psikolog remaja, Ratih Ibrahim yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Menurutnya kondisi ini muncul karena pada masa persiapan menuju kedewasaan, terjadi perkembangan secara pesat baik di fisik, psikologis dan intelektual.

"Sehingga pada masa ini para remaja cenderung memiliki rasa keingintahuan yang besar dan mulai menyukai petualangan dengan mencoba hal-hal yang baru.Oleh karenanya di masa ini diperlukan bimbingan agar mereka memilih jalan yang benar,"ujarnya.

Dia juga mengatakan faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang menjerumuskan remaja pada pilihan hidup yang keliru, salah satunya informasi yang simpang siur seperti mitos yang disiarkan secara turun menurun.Faktor lainnya, hampir seluruh remaja menganggap tabu membicarakan masalah seks kepada kedua orang tuanya. Mereka lebih memilih sharing dengan temannya atau mencari informasi lain.

Ini sangat membahayakan, ketika informasi yang didapatkan baik dari lingkungan maupun akses lain adalah informasi yan keliru.

"Kita tidak dapat menyalahkan para remaja yang kemudian berami bereksplorasi dengan seksualitas, padahal pengetahuan mereka sangat minim. Mereka lebih suka mengakses informasi dari internet daripada bertanya langsung pada orang tuanya,"jelasnya. mun-Ks