Oleh: AsianBrain.com Content Team
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.
Definisi kenakalan remaja menurut para ahli
* Kartono, ilmuwan sosiologi
Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang".
* Santrock
"Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."
Sejak kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.
Jenis-jenis kenakalan remaja
* Penyalahgunaan narkoba
* Seks bebas
* Tawuran antara pelajar
Penyebab terjadinya kenakalan remaja
Perilaku 'nakal' remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Faktor internal:
1. Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
2. Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
1. Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman sebaya yang kurang baik
3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja:
1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
3. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com
Remaja adalah generasi penerus bangsa dan tulang punggung dari masa depan negeri ini bahkan planet ini.
Feedjit
Gaya hidup bebas di Bali sepertinya semakin menunjukkan dampak yang memprihatinkan. Bagaimana tidak, puluhan bayi di bawah usia lima tahun terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Dan jumlah ini semakin melonjak dan perkembangannya tampak mengkuatirkan, karena serangan HIV/AIDS ini diidap oleh semua kelompok usia.
Komisi penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali dalam laporannya hingga November 2009 menyebutkan dari 3.181 kasus, sedikitnya 19 bayi di bawah 1 tahun positif terjangkit penyakit dan virus mematikan itu. Dari 19 bayi tersebut yang berasal dari orangtua biasa maupun orangtua yang memiliki latar belakang kehidupan seks bebas, yang positif AIDS mencapai 18 bayi, terdiri dari 11 bayi laki-laki dan 7 bayi perempuan, dan hanya seorang bayi perempuan yang terkena HIV.
Pada kelompok 1-4 tahun, yang ditemukan positif terjangkit HIV/AIDS mencapai 43 balita, terdiri dari 29 penderita AIDS (15 balita laki-laki dan 14 balita perempuan) dan 14 penderita HIV (6 balita laki-laki dan 8 balita perempuan).
Hasil ini tentu saja mengundang keprihatinan yang sangat besar. Mercya Soetanto selaku aktivis penanggulangan HIV/AIDS dan juga penghubung media KPA Bali menghimbau kepada setiap wanita usia subur bersama dengan pasangannya secara rutin memeriksakan kesehatannya kepada dokter. Dengan demikian jika di antara pasangan ada yang terjangkit HIV/AIDS dapat diketahui sejak dini dan penderita dapat mencegah terjadinya kehamilan.
Selain balita, kelompok usia 5-14 tahun ditemukan 5 orang positif HIV/AIDS, dengan 3 anak menderita AIDS dan 2 anak tertular HIV. Namun untuk usia 15-19 tahun, penderita mencapai 74 orang dengan 16 anak remaja mengidap AIDS dan 58 anak remaja mengidap HIV.
Selain kelompok usia anak dan remaja ini, penderita terbanyak didapati pada rentang usia 20-39 tahun, yakni mencapai 1.500 orang atau 47,15% dari 3.181 kasus, terdiri dari 615 orang menderita AIDS dan 885 orang terkena HIV. Dalam kelompok usia 30-39 tahun didapati 1.118 orang pengidap HIV/AIDS atau 35,15% dari total kasus, dengan 647 penderita AIDS dan 471 pengidap HIV. Di kelompok usia 40-49 tahun, didapati 332 penderita HIV/AIDS atau 10,44% dari total kasus, dengan 217 penderita AIDS dan 115 orang tertular HIV. Bahkan di rentang usia 50-59 tahun didapati 80 orang positif mengidap HIV/AIDS, terdiri dari 64 orang mengidap AIDS dan 16 orang tertular HIV. Rentang usia di atas 60 tahun ditemukan 10 kasus, terdiri dari 8 orang terjangkit AIDS dan 2 lainnya terkena HIV.
Bagaimanapun juga, tidak ada obat yang lebih ampuh untuk menanggulangi HIV/AIDS selain dengan gaya hidup yang menjunjung tinggi kekudusan, no sex before married dan hanya memiliki satu pasangan sampai maut memisahkan.
Sumber : antaranews
Komisi penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali dalam laporannya hingga November 2009 menyebutkan dari 3.181 kasus, sedikitnya 19 bayi di bawah 1 tahun positif terjangkit penyakit dan virus mematikan itu. Dari 19 bayi tersebut yang berasal dari orangtua biasa maupun orangtua yang memiliki latar belakang kehidupan seks bebas, yang positif AIDS mencapai 18 bayi, terdiri dari 11 bayi laki-laki dan 7 bayi perempuan, dan hanya seorang bayi perempuan yang terkena HIV.
Pada kelompok 1-4 tahun, yang ditemukan positif terjangkit HIV/AIDS mencapai 43 balita, terdiri dari 29 penderita AIDS (15 balita laki-laki dan 14 balita perempuan) dan 14 penderita HIV (6 balita laki-laki dan 8 balita perempuan).
Hasil ini tentu saja mengundang keprihatinan yang sangat besar. Mercya Soetanto selaku aktivis penanggulangan HIV/AIDS dan juga penghubung media KPA Bali menghimbau kepada setiap wanita usia subur bersama dengan pasangannya secara rutin memeriksakan kesehatannya kepada dokter. Dengan demikian jika di antara pasangan ada yang terjangkit HIV/AIDS dapat diketahui sejak dini dan penderita dapat mencegah terjadinya kehamilan.
Selain balita, kelompok usia 5-14 tahun ditemukan 5 orang positif HIV/AIDS, dengan 3 anak menderita AIDS dan 2 anak tertular HIV. Namun untuk usia 15-19 tahun, penderita mencapai 74 orang dengan 16 anak remaja mengidap AIDS dan 58 anak remaja mengidap HIV.
Selain kelompok usia anak dan remaja ini, penderita terbanyak didapati pada rentang usia 20-39 tahun, yakni mencapai 1.500 orang atau 47,15% dari 3.181 kasus, terdiri dari 615 orang menderita AIDS dan 885 orang terkena HIV. Dalam kelompok usia 30-39 tahun didapati 1.118 orang pengidap HIV/AIDS atau 35,15% dari total kasus, dengan 647 penderita AIDS dan 471 pengidap HIV. Di kelompok usia 40-49 tahun, didapati 332 penderita HIV/AIDS atau 10,44% dari total kasus, dengan 217 penderita AIDS dan 115 orang tertular HIV. Bahkan di rentang usia 50-59 tahun didapati 80 orang positif mengidap HIV/AIDS, terdiri dari 64 orang mengidap AIDS dan 16 orang tertular HIV. Rentang usia di atas 60 tahun ditemukan 10 kasus, terdiri dari 8 orang terjangkit AIDS dan 2 lainnya terkena HIV.
Bagaimanapun juga, tidak ada obat yang lebih ampuh untuk menanggulangi HIV/AIDS selain dengan gaya hidup yang menjunjung tinggi kekudusan, no sex before married dan hanya memiliki satu pasangan sampai maut memisahkan.
Sumber : antaranews
BANDUNG--MI: Hampir seluruh remaja putri Indonesia yang menjadi responden suatu survei tidak dapat menjawab dengan benar pertanyaan tentang organ tubuh yang terkait dengan aspek kewanitaan, demikian hasil survei yang dilakukan sebuah produsen perlengkapan wanita.
"Hampir 0% remaja perempuan di Indonesia tidak paham tentang tubuh mereka, aspek-aspek keperempuanan, termasuk aspek seksual," kata Andy Iskandar, manajer pemasaran perlengkapan wanita PT Kimberly-Clark Indonesia, di Bandung, Rabu (3/2).
Andy Iskandar, kepada pers di sela kampanye pengetahuan kewanitaan yang diikuti siswi sebuah SMP di Bandung, menyatakan, perusahaannya melakukan survei masalah tersebut di enam negara, termasuk Indonesia.
Dari seluruh responden, kata dia, tingkat pengetahuan remaja perempuan mengenai tubuh mereka rata-rata tiga persen. Sedangkan di Indonesia, rata-ratanya nol persen.
Andy juga mengatakan ditemukan fakta bahwa 70% dari perempuan yang disurvei masih percaya pada mitos di tempat tinggalnya. "Misalnya, sekitar 21% remaja perempuan percaya bahwa mereka bisa kehilangan virginitas karena mengayuh sepeda," kata Andy.
Menurut dia, kurangnya pengetahuan para remaja perempuan ini disebabkan oleh minimnya sarana informasi yang terpercaya, seks yang masih dianggap tabu untuk dibicarakan, dan masih berkembangnya mitos.
Sementara itu, ginekolog yang aktif menangani masalah remaja, dr Boy Abidin, mengatakan, remaja Indonesia saat ini sudah berani bereksplorasi dengan seksualitas mereka. "Penelitian Annisa Foundation tahun 2006 di SMP dan SMA di Jabar mengungkapkan, sebanyak 42,3% melakukan hubungna seks pertama kali saat masih di bangku sekolah berdasarkan rasa suka sama suka," kata Boy menjelaskan.
Boy juga mengungkapkan, lebih dari 60% remaja di kota-kota besar di Indonesia melakukan seks pranikah, dan mereka yakin bila cuma sekali tidak akan hamil.
Untuk itu Boy menyatakan pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi pada anak harus diberikan sedini mungkin, yaitu dari mulai si anak bisa berkomunikasi dan disesuaikan dengan daya serap mereka. "Dari sejak TK pun misalnya sudah diajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan dan tentang kelamin," kata Boy.
Psikolog Ratih Ibrahim mengatakan, saat di usia pubertas, seorang anak memiliki keingintahuan yang lebih besar, khususnya tentang hal-hal seksual dan perilaku mereka juga akan berubah.
Ratih menekankan pengaruh lingkungan, khusunya orang tua dan guru sangat penting dalam membantu pendidikan seksualitas anak. Jadi mereka harus memiliki pengetahuan yang benar tentang masalah ini. "Dari penelitian yang kami lakukan, masih banyak remaja perempuan di Indonesia yang setuju bahwa orang tua mereka menganggap membicarakan masalah seks dan juga masalah keperempuanan adalah tabu," ujar Ratih. (Ant/OL-02)
"Hampir 0% remaja perempuan di Indonesia tidak paham tentang tubuh mereka, aspek-aspek keperempuanan, termasuk aspek seksual," kata Andy Iskandar, manajer pemasaran perlengkapan wanita PT Kimberly-Clark Indonesia, di Bandung, Rabu (3/2).
Andy Iskandar, kepada pers di sela kampanye pengetahuan kewanitaan yang diikuti siswi sebuah SMP di Bandung, menyatakan, perusahaannya melakukan survei masalah tersebut di enam negara, termasuk Indonesia.
Dari seluruh responden, kata dia, tingkat pengetahuan remaja perempuan mengenai tubuh mereka rata-rata tiga persen. Sedangkan di Indonesia, rata-ratanya nol persen.
Andy juga mengatakan ditemukan fakta bahwa 70% dari perempuan yang disurvei masih percaya pada mitos di tempat tinggalnya. "Misalnya, sekitar 21% remaja perempuan percaya bahwa mereka bisa kehilangan virginitas karena mengayuh sepeda," kata Andy.
Menurut dia, kurangnya pengetahuan para remaja perempuan ini disebabkan oleh minimnya sarana informasi yang terpercaya, seks yang masih dianggap tabu untuk dibicarakan, dan masih berkembangnya mitos.
Sementara itu, ginekolog yang aktif menangani masalah remaja, dr Boy Abidin, mengatakan, remaja Indonesia saat ini sudah berani bereksplorasi dengan seksualitas mereka. "Penelitian Annisa Foundation tahun 2006 di SMP dan SMA di Jabar mengungkapkan, sebanyak 42,3% melakukan hubungna seks pertama kali saat masih di bangku sekolah berdasarkan rasa suka sama suka," kata Boy menjelaskan.
Boy juga mengungkapkan, lebih dari 60% remaja di kota-kota besar di Indonesia melakukan seks pranikah, dan mereka yakin bila cuma sekali tidak akan hamil.
Untuk itu Boy menyatakan pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi pada anak harus diberikan sedini mungkin, yaitu dari mulai si anak bisa berkomunikasi dan disesuaikan dengan daya serap mereka. "Dari sejak TK pun misalnya sudah diajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan dan tentang kelamin," kata Boy.
Psikolog Ratih Ibrahim mengatakan, saat di usia pubertas, seorang anak memiliki keingintahuan yang lebih besar, khususnya tentang hal-hal seksual dan perilaku mereka juga akan berubah.
Ratih menekankan pengaruh lingkungan, khusunya orang tua dan guru sangat penting dalam membantu pendidikan seksualitas anak. Jadi mereka harus memiliki pengetahuan yang benar tentang masalah ini. "Dari penelitian yang kami lakukan, masih banyak remaja perempuan di Indonesia yang setuju bahwa orang tua mereka menganggap membicarakan masalah seks dan juga masalah keperempuanan adalah tabu," ujar Ratih. (Ant/OL-02)
KEBON AGUNG- Berbagai survei yang dilakukan pada sejumlah remaja di Indonesia membuktikan bahwa hubungan seks pra nikah telah dilakukan banyak remaja di usia sekolah. Hal ini cukup mengkhawatirkan, lantaran minimnya pengetahuan para remaja mengenai pendidikan seksologi yang tepat.
Dokter Boy Abidin, Ahli Ginelogi menyatakan, dari penelitian yang dialaksanakan Annisa Foundation tahun 2006 di SMP dan SMU di Jabar mengungkapkan sebesar 42,3 persen hubungan seks pertama kali saat remaja duduk di bangku sekolah.
Sementara survei yang dilangsir BKKBN periode akhir Desember 2008 menyebutkan bahwa 63 persen ramaja di beberapa kota besar di Indonesia telah melakukan seks pra nikah."Namun sebagian besar para remaja ini meyakini bahwa berhubungan seks satu kali tiak menyebabkan kehamilan.
Kondisi ini sangat memprihatinkan dan perlu sekali adanya pembekalan mengenai kesehatan reproduksi, "katanya dalam seminar seksologi dengan tema I Know Campaign yang diadakan di SMPN 6 Semarang, Rabu (10/2) kemarin.
Dia mengatakan, pembekalan dan penyuluhan seputar bodylife knowledge, termasuk pengetahuan seksual sangat penting bagi remaja sekarang. Pasalnya, kebanyakan ramaja saat ini sudah berani bereksplorasi dengan seksualitas mereka.
Persiapan
Hal senada juga diungkapkan psikolog remaja, Ratih Ibrahim yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Menurutnya kondisi ini muncul karena pada masa persiapan menuju kedewasaan, terjadi perkembangan secara pesat baik di fisik, psikologis dan intelektual.
"Sehingga pada masa ini para remaja cenderung memiliki rasa keingintahuan yang besar dan mulai menyukai petualangan dengan mencoba hal-hal yang baru.Oleh karenanya di masa ini diperlukan bimbingan agar mereka memilih jalan yang benar,"ujarnya.
Dia juga mengatakan faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang menjerumuskan remaja pada pilihan hidup yang keliru, salah satunya informasi yang simpang siur seperti mitos yang disiarkan secara turun menurun.Faktor lainnya, hampir seluruh remaja menganggap tabu membicarakan masalah seks kepada kedua orang tuanya. Mereka lebih memilih sharing dengan temannya atau mencari informasi lain.
Ini sangat membahayakan, ketika informasi yang didapatkan baik dari lingkungan maupun akses lain adalah informasi yan keliru.
"Kita tidak dapat menyalahkan para remaja yang kemudian berami bereksplorasi dengan seksualitas, padahal pengetahuan mereka sangat minim. Mereka lebih suka mengakses informasi dari internet daripada bertanya langsung pada orang tuanya,"jelasnya. mun-Ks
Dokter Boy Abidin, Ahli Ginelogi menyatakan, dari penelitian yang dialaksanakan Annisa Foundation tahun 2006 di SMP dan SMU di Jabar mengungkapkan sebesar 42,3 persen hubungan seks pertama kali saat remaja duduk di bangku sekolah.
Sementara survei yang dilangsir BKKBN periode akhir Desember 2008 menyebutkan bahwa 63 persen ramaja di beberapa kota besar di Indonesia telah melakukan seks pra nikah."Namun sebagian besar para remaja ini meyakini bahwa berhubungan seks satu kali tiak menyebabkan kehamilan.
Kondisi ini sangat memprihatinkan dan perlu sekali adanya pembekalan mengenai kesehatan reproduksi, "katanya dalam seminar seksologi dengan tema I Know Campaign yang diadakan di SMPN 6 Semarang, Rabu (10/2) kemarin.
Dia mengatakan, pembekalan dan penyuluhan seputar bodylife knowledge, termasuk pengetahuan seksual sangat penting bagi remaja sekarang. Pasalnya, kebanyakan ramaja saat ini sudah berani bereksplorasi dengan seksualitas mereka.
Persiapan
Hal senada juga diungkapkan psikolog remaja, Ratih Ibrahim yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Menurutnya kondisi ini muncul karena pada masa persiapan menuju kedewasaan, terjadi perkembangan secara pesat baik di fisik, psikologis dan intelektual.
"Sehingga pada masa ini para remaja cenderung memiliki rasa keingintahuan yang besar dan mulai menyukai petualangan dengan mencoba hal-hal yang baru.Oleh karenanya di masa ini diperlukan bimbingan agar mereka memilih jalan yang benar,"ujarnya.
Dia juga mengatakan faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang menjerumuskan remaja pada pilihan hidup yang keliru, salah satunya informasi yang simpang siur seperti mitos yang disiarkan secara turun menurun.Faktor lainnya, hampir seluruh remaja menganggap tabu membicarakan masalah seks kepada kedua orang tuanya. Mereka lebih memilih sharing dengan temannya atau mencari informasi lain.
Ini sangat membahayakan, ketika informasi yang didapatkan baik dari lingkungan maupun akses lain adalah informasi yan keliru.
"Kita tidak dapat menyalahkan para remaja yang kemudian berami bereksplorasi dengan seksualitas, padahal pengetahuan mereka sangat minim. Mereka lebih suka mengakses informasi dari internet daripada bertanya langsung pada orang tuanya,"jelasnya. mun-Ks
Data temuan lembaga keamanan Symantec Norton menunjukkan bahwa pornografi menjadi pencarian dalam jaringan online terpopuler yang dilakukan anak-anak selama 2009. Hasil mengejutkan ini merupakan temuan dalam survei terbaru lembaga keamanan internet, Norton. Seperti diungkap dalam stasiun televisi CBN News, tiga mesin pencari yang paling sering dipakai anak-anak yaitu YouTube, Google dan Facebook. Sementara kata ‘porno’ dan ’seks’ berada posisi kedua dalam data Symantec Norton. Meski Simantec tidak mengeluarkan data negara mana asal anak-anak tersebut, tetapi paling tidak hal ini jadi perhatian para orang tua di Indonesia.
Saat ini teknologi internet memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk dari kehidupan buah hati Anda. Internet bisa mempermudah mereka menyelesaikan tugas-tugasnya di sekolah. Tetapi dampak negatif dari internet juga tidak kalah besarnya.
Ini merupakan pertanda bahaya bagi para orang tua jika mereka tidak memasukkan unsur seks dalam pendidikan anak-anaknya. Akibatnya anak berusaha belajar sendiri, padahal isi situs porno belum diperlukan anak. Diantara 25 daftar pencarian paling utama, situs jaringan pertemanan, permainan, belanja, dan situs dewasa adalah favorit anak laki-laki. Sedangkan anak-anak perempuan lebih tertarik membuka jaringan sosial, musik, film, selebriti dan tayangan televisi.
Penemuan melibatkan 14,6 juta pencarian pada Februari hingga Desember 2009 di sebuah situs pencarian grastis, OnlineFamily. Norton menyarankan agar orangtua menggunakan filter untuk memonitor penggunaan internet putra-putri mereka. Aktifitas online yang semakin meningkat di kalangan anak-anak telah menjadi ancaman. Orangtua perlu lebih dari sekedar memperingatkan anak mereka mengenai isi internet. Dalam keadaan seperti ini hal yang paling mendesak dilakukan orangtua harus berdiskusi bersama anak mengenai topik yang mengundang rasa ingin tahu mereka sekaligus melindungi anak dari ancaman dunia maya.
Indonesia pengakses Pornografi terbesar di dunia
Tehnik memblokir Situs Porno
Seperti di tayangkan pada gambar, ada beberapa teknik proses blokir situs tidak baik. Disini akan dicoba untuk dijelaskan teknik untuk mem-blok situs yang tidak baik tersebut. Walaupun harus di akui bahwa semua teknik mem-Blok situs tidak baik dibuat oleh manusia juga. Tidak ada jaminan dapat melakukan tugasnya dengan baik 100%. Ada banyak cara untuk mem- bypass proses blok buatan manusia. Terus terang, jauh lebih ampuh jika dapat menggunakan mekanisme blok yang diberikan oleh Pencipta Manusia.
baca selengkapnya di http://saveindonesianchildren.wordpress.com/2010/01/06/pornografi-pencarian-paling-populer-pada-anak-anak-bagaimana-pencegahannya/
Saat ini teknologi internet memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk dari kehidupan buah hati Anda. Internet bisa mempermudah mereka menyelesaikan tugas-tugasnya di sekolah. Tetapi dampak negatif dari internet juga tidak kalah besarnya.
Ini merupakan pertanda bahaya bagi para orang tua jika mereka tidak memasukkan unsur seks dalam pendidikan anak-anaknya. Akibatnya anak berusaha belajar sendiri, padahal isi situs porno belum diperlukan anak. Diantara 25 daftar pencarian paling utama, situs jaringan pertemanan, permainan, belanja, dan situs dewasa adalah favorit anak laki-laki. Sedangkan anak-anak perempuan lebih tertarik membuka jaringan sosial, musik, film, selebriti dan tayangan televisi.
Penemuan melibatkan 14,6 juta pencarian pada Februari hingga Desember 2009 di sebuah situs pencarian grastis, OnlineFamily. Norton menyarankan agar orangtua menggunakan filter untuk memonitor penggunaan internet putra-putri mereka. Aktifitas online yang semakin meningkat di kalangan anak-anak telah menjadi ancaman. Orangtua perlu lebih dari sekedar memperingatkan anak mereka mengenai isi internet. Dalam keadaan seperti ini hal yang paling mendesak dilakukan orangtua harus berdiskusi bersama anak mengenai topik yang mengundang rasa ingin tahu mereka sekaligus melindungi anak dari ancaman dunia maya.
Indonesia pengakses Pornografi terbesar di dunia
Tehnik memblokir Situs Porno
Seperti di tayangkan pada gambar, ada beberapa teknik proses blokir situs tidak baik. Disini akan dicoba untuk dijelaskan teknik untuk mem-blok situs yang tidak baik tersebut. Walaupun harus di akui bahwa semua teknik mem-Blok situs tidak baik dibuat oleh manusia juga. Tidak ada jaminan dapat melakukan tugasnya dengan baik 100%. Ada banyak cara untuk mem- bypass proses blok buatan manusia. Terus terang, jauh lebih ampuh jika dapat menggunakan mekanisme blok yang diberikan oleh Pencipta Manusia.
baca selengkapnya di http://saveindonesianchildren.wordpress.com/2010/01/06/pornografi-pencarian-paling-populer-pada-anak-anak-bagaimana-pencegahannya/
Lembar fakta yang diterbitkan oleh PKBI, United Nations Population Fund (UNFPA) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 15 juta remaja berusia 15-19 tahun melahirkan.
Setiap tahun, masih menurut lembar fakta tersebut, sekitar 2,3 juta kasus aborsi juga terjadi di Indonesia dan 20 persennya dilakukan oleh remaja.
"Dalam pengertian moral tentu kita tahu simpulan dari fakta tersebut, tapi yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah dampak dari perilaku tersebut terhadap kesehatan reproduksi remaja, terutama remaja perempuan," kata Ketua Pengurus Nasional Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Rizal Malik, di Jakarta, Jumat.
Oleh karena itu, ia melanjutkan, masalah serius itu harus mendapatkan penanganan serius oleh pemerintah maupun masyarakat.
Dekatkan akses informasi:
Langkah efektif yang harus dilakukan untuk mencegah kejadian tersebut, kata dia, adalah dengan mendekatkan akses informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi terutama kepada perempuan dan remaja.
Peningkatkan akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi tersebut, kata dia, diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan reproduksi.
"Itu penting karena dengan bekal informasi yang cukup tentu mereka dapat mengambil keputusan yang tepat tentang segala hal yang berkenaan dengan kesehatan reproduksi mereka," katanya.
Sebagai organisasi masyarakat yang memiliki cabang di 249 kabupaten di 26 provinsi, kata dia, PKBI dalam hal ini juga turut berkontribusi dalam penyediaan dan penyebarluasan informasi mengenai kesehatan reproduksi bagi perempuan dan remaja.
"Kita punya klinik dan pusat kepemudaan yang menyediakan layanan kesehatan dan informasi tentang kesehatan reproduksi. PKBI juga terus mengupayakan program-program perlindungan dari praktik aborsi tidak aman bagi perempuan," tambahnya.
Sekitar 15 persen remaja usia 10 tahun hingga 24 tahun di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 62 juta, telah melakukan hubungan seksual di luar nikah.
"Fakta itu cukup memrihatinkan, tapi yang lebih mengejutkan lagi pengalaman seksual mereka rata-rata terjadi pada usia belasan tahun," katanya.
Hasil penelitian yang dilakukan PKBI di kota Palembang, Kupang, Tasikmalaya, Cirebon dan Singkawang pada 2005 juga menunjukkan bahwa jumlah remaja yang melakukan hubungan seks diluar nikah cukup tinggi.
Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa 9,1 persen remaja telah melakukan hubungan seks dan 85 persennya melakukan hubungan seks pertama mereka pada usia 13-15 tahun di rumah mereka dengan pacar.
Menurut dia kondisi itu cukup mengkhawatirkan mengingat perilaku tersebut dapat menyebabkan kasus kehamilan tidak diinginkan (KTD) yang selanjutnya memicu praktek aborsi tidak aman. (04)
Setiap tahun, masih menurut lembar fakta tersebut, sekitar 2,3 juta kasus aborsi juga terjadi di Indonesia dan 20 persennya dilakukan oleh remaja.
"Dalam pengertian moral tentu kita tahu simpulan dari fakta tersebut, tapi yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah dampak dari perilaku tersebut terhadap kesehatan reproduksi remaja, terutama remaja perempuan," kata Ketua Pengurus Nasional Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Rizal Malik, di Jakarta, Jumat.
Oleh karena itu, ia melanjutkan, masalah serius itu harus mendapatkan penanganan serius oleh pemerintah maupun masyarakat.
Dekatkan akses informasi:
Langkah efektif yang harus dilakukan untuk mencegah kejadian tersebut, kata dia, adalah dengan mendekatkan akses informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi terutama kepada perempuan dan remaja.
Peningkatkan akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi tersebut, kata dia, diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan reproduksi.
"Itu penting karena dengan bekal informasi yang cukup tentu mereka dapat mengambil keputusan yang tepat tentang segala hal yang berkenaan dengan kesehatan reproduksi mereka," katanya.
Sebagai organisasi masyarakat yang memiliki cabang di 249 kabupaten di 26 provinsi, kata dia, PKBI dalam hal ini juga turut berkontribusi dalam penyediaan dan penyebarluasan informasi mengenai kesehatan reproduksi bagi perempuan dan remaja.
"Kita punya klinik dan pusat kepemudaan yang menyediakan layanan kesehatan dan informasi tentang kesehatan reproduksi. PKBI juga terus mengupayakan program-program perlindungan dari praktik aborsi tidak aman bagi perempuan," tambahnya.
Sekitar 15 persen remaja usia 10 tahun hingga 24 tahun di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 62 juta, telah melakukan hubungan seksual di luar nikah.
"Fakta itu cukup memrihatinkan, tapi yang lebih mengejutkan lagi pengalaman seksual mereka rata-rata terjadi pada usia belasan tahun," katanya.
Hasil penelitian yang dilakukan PKBI di kota Palembang, Kupang, Tasikmalaya, Cirebon dan Singkawang pada 2005 juga menunjukkan bahwa jumlah remaja yang melakukan hubungan seks diluar nikah cukup tinggi.
Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa 9,1 persen remaja telah melakukan hubungan seks dan 85 persennya melakukan hubungan seks pertama mereka pada usia 13-15 tahun di rumah mereka dengan pacar.
Menurut dia kondisi itu cukup mengkhawatirkan mengingat perilaku tersebut dapat menyebabkan kasus kehamilan tidak diinginkan (KTD) yang selanjutnya memicu praktek aborsi tidak aman. (04)
Dari 11.000 angka estimasi (perkiraan) kasus Human Immunodeficiency Virus/Aquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Sumatera Utara, tercatat sekitar 2.429 kasus yang ditemukan selama kurun waktu 1992 – September 2009.
“Berarti masih ada 8.571 pengidap HIV/AIDS yang belum terdeteksi,” kata Kadis Kesehatan Sumut dr. Chandra Syafei melalui Kepala Seksi Penularan Penyakit Menular Langsung, Sukarni, SKM di ruang kerjanya, Senin (9/11).
Dari 2.429 kasus HIV/AIDS yang telah ditemukan, lanjut Sukarni, dilaporkan sebanyak 1.812 kasus yang memiliki identitas secara lengkap. Selebihnya hanya berupa laporan penemuan kasus dari berbagai Klinik Voluntary Counseling dan Testing (VCT) di sejumlah rumah sakit.
Menurut Sukarni, kecilnya angka penemuan kasus HIV/AIDS di Sumut tersebut disebabkan para pengidapnya belum mengalami gejala infeksi opportunistik, sehingga belum terpanggil untuk memeriksakan diri ke klinik VCT.
Padahal, pengidap HIV/AIDS yang masih dalam masa periode jendela (window period) atau tanpa gejala ini, termasuk kelompok risiko tinggi yang berpotensi menularkan virus mematikan tersebut kepada orang lain.
Ketika memasuki fase AIDS yang ditandai dengan munculnya fase AIDS yang ditandai dengan munculnya gejala infeksi opportunistik, barulah orang-orang yang masuk termasuk dalam kelompok risiko tinggi tersebut mendatangi Klinik VCT.
Sukarni juga menambahkan, Kadis Kesehatan Sumut telah menargetkan setiap kabupaten/kota memiliki Klinik VCT pada tahun 2010 agar kasus-kasus HIV/AIDS dapat dideteksi sedini mungkin dan segera diberi terapi pengobatan Anti Retro Viral (ARV).
Saat ini, kasus HIV/AIDS terbesar di Sumut berasal dari kelompok heteroseks (863 kasus) dan pengguna narkotik suntik (706 kasus). Diperkirakan masih ada kasus HIV/AIDS dari kelompok heteroseks dan pengguna narkotik suntik yang belum terdeteksi.
Dinas Kesehatan Sumut memperkirakan ada sekitar 4.600 Pekerja Seks Komersial (PSK) Langsung yang beroperasi di berbagai daerah. Dari jumlah tersebut, 5-8 persen di antaranya terinfeksi HIV/AIDS. Sedangkan PSK Tidak Langsung sekitar 3.100 orang dan 4 persen di antaranya terinfeksi HIV/AIDS. “Dalam hal ini, PSK Tidak Langsung dimaksud adalah para wanita yang memiliki pekerjaan tetap namun masih menjalankan praktik sebagai PSK,” jelas Sukarni.
Para PSK Langsung tersebut memiliki pelanggan sebanyak 105.000 orang dan 1.700 orang di antaranya terinfeksi HIV/AIDS. Sementara PSK Tidak Langsung memiliki pelanggan 46.000 orang dan 800 diantaranya terinfeksi HIV/AIDS.
Kemudian, ada sekitar 74.000 wanita yang menjadi pasangan (istri) pelanggan PSK Langsung. Dari jumlah tersebut, 108 orang di antaranya terinfeksi HIV/AIDS. “Pasangan pelanggan PSK Tidak Langsung sebanyak 34.000 dan 125 diantaranya terinfeksi HIV/AIDS,” ujar Sukarni seraya menambahkan pengguna narkotik suntik yang diperkirakan terinfeksi HIV/AIDS mencapai 6.000 orang.
Sukarni mengingatkan, kini HIV/AIDS bukan masalah kesehatan, tetapi sudah menjadi masalah perilaku dan sosial. “Karena itu, penanggulangan HIV/AIDS tidak bisa hanya mengandalkan institusi kesehatan, tetapi perlu melibatkan berbagai lapisan masyarakat terutama kalangan keluarga pengidap HIV/AIDS itu sendiri.” ujarnya. (Waspada
“Berarti masih ada 8.571 pengidap HIV/AIDS yang belum terdeteksi,” kata Kadis Kesehatan Sumut dr. Chandra Syafei melalui Kepala Seksi Penularan Penyakit Menular Langsung, Sukarni, SKM di ruang kerjanya, Senin (9/11).
Dari 2.429 kasus HIV/AIDS yang telah ditemukan, lanjut Sukarni, dilaporkan sebanyak 1.812 kasus yang memiliki identitas secara lengkap. Selebihnya hanya berupa laporan penemuan kasus dari berbagai Klinik Voluntary Counseling dan Testing (VCT) di sejumlah rumah sakit.
Menurut Sukarni, kecilnya angka penemuan kasus HIV/AIDS di Sumut tersebut disebabkan para pengidapnya belum mengalami gejala infeksi opportunistik, sehingga belum terpanggil untuk memeriksakan diri ke klinik VCT.
Padahal, pengidap HIV/AIDS yang masih dalam masa periode jendela (window period) atau tanpa gejala ini, termasuk kelompok risiko tinggi yang berpotensi menularkan virus mematikan tersebut kepada orang lain.
Ketika memasuki fase AIDS yang ditandai dengan munculnya fase AIDS yang ditandai dengan munculnya gejala infeksi opportunistik, barulah orang-orang yang masuk termasuk dalam kelompok risiko tinggi tersebut mendatangi Klinik VCT.
Sukarni juga menambahkan, Kadis Kesehatan Sumut telah menargetkan setiap kabupaten/kota memiliki Klinik VCT pada tahun 2010 agar kasus-kasus HIV/AIDS dapat dideteksi sedini mungkin dan segera diberi terapi pengobatan Anti Retro Viral (ARV).
Saat ini, kasus HIV/AIDS terbesar di Sumut berasal dari kelompok heteroseks (863 kasus) dan pengguna narkotik suntik (706 kasus). Diperkirakan masih ada kasus HIV/AIDS dari kelompok heteroseks dan pengguna narkotik suntik yang belum terdeteksi.
Dinas Kesehatan Sumut memperkirakan ada sekitar 4.600 Pekerja Seks Komersial (PSK) Langsung yang beroperasi di berbagai daerah. Dari jumlah tersebut, 5-8 persen di antaranya terinfeksi HIV/AIDS. Sedangkan PSK Tidak Langsung sekitar 3.100 orang dan 4 persen di antaranya terinfeksi HIV/AIDS. “Dalam hal ini, PSK Tidak Langsung dimaksud adalah para wanita yang memiliki pekerjaan tetap namun masih menjalankan praktik sebagai PSK,” jelas Sukarni.
Para PSK Langsung tersebut memiliki pelanggan sebanyak 105.000 orang dan 1.700 orang di antaranya terinfeksi HIV/AIDS. Sementara PSK Tidak Langsung memiliki pelanggan 46.000 orang dan 800 diantaranya terinfeksi HIV/AIDS.
Kemudian, ada sekitar 74.000 wanita yang menjadi pasangan (istri) pelanggan PSK Langsung. Dari jumlah tersebut, 108 orang di antaranya terinfeksi HIV/AIDS. “Pasangan pelanggan PSK Tidak Langsung sebanyak 34.000 dan 125 diantaranya terinfeksi HIV/AIDS,” ujar Sukarni seraya menambahkan pengguna narkotik suntik yang diperkirakan terinfeksi HIV/AIDS mencapai 6.000 orang.
Sukarni mengingatkan, kini HIV/AIDS bukan masalah kesehatan, tetapi sudah menjadi masalah perilaku dan sosial. “Karena itu, penanggulangan HIV/AIDS tidak bisa hanya mengandalkan institusi kesehatan, tetapi perlu melibatkan berbagai lapisan masyarakat terutama kalangan keluarga pengidap HIV/AIDS itu sendiri.” ujarnya. (Waspada
Langganan:
Postingan (Atom)
